Denpasar (Bisnis Bali) –  Berbagai produk fashion Bali yakni, kain tenun ikat, perhiasan, permata, dan lainnya memiliki peluang pasar  yang cerah. Ini menuntut produsen terus meningkatkan inovasi menghadapi kompetitor yang makin ketat.

Pebisnis kain tenun ikat Bali, Ida Ayu Mas, Selasa (6/11), menilai, produk kearifan lokal Bali termasuk dalam berbagai jenis produk fashion lainnya memiliki kekhasan tersendiri. Selain merupakan karya seni dan budaya, produksi kain tenun ikat Bali juga menggunakan bahan baku pilihan, dan dikerjakan para pemotif yang  mumpuni, sehingga kualitasnya dapat diandalkan.

Kualitas inilah yang menentukan harga jualnya di pasaran. Kain tenun ikat yakni songket dan endek dijual di pasaran cukup mahal. Kisarannya Rp250 ribu – Rp500 ribu per lembar. Khusus endek yang bisa dibuat berbagai jenis busana formal harganya jadi makin mahal. Kisarannya Rp450 ribu-Rp600 ribu per pcs.  Dia optimis selain endek dan songket berbagai jenis produk tekstil Bali lainnya memiliki peluang pasar yang cerah tak hanya di pasar lokal, dalam dan luar negeri.

Menurutnya, inovasi merupakan hal wajib agar dihasilkan karya desain dan motif yang beragam dan bermutu. Dengan ini diharapkan daya saing produk makin meningkat diikuti harga jualnya yang makin meningkat.

Sebelumnya, desainer endek Bali, Jro Puspawati menyampaikan selain inovasi, produk tekstil Bali juga harus gencar dipromosikan. Tak hanya lewat pameran tapi juga memanfaatkan media online. Ini diharapkan makin meningkatkan serapan pasar sehingga produksi produk juga lancar dan kontinyu.

Sementara owner Wirata Jewellry, Kadek Ariana menyampaikan, untuk produk perhiasan emas dan perak, juga permata peluang pasarnya tak kalah cerah. Bali sebagai kawasan wisata dunia, pasar produk kearifan lokal ini juga makin heterogen. Meningkatkan inovasi desain dan motif wajib, tak kalah penting adalah pemanfaatan bahan baku bermutu sehingga tetap diperhitungkan di pasar dunia.

Selama ini bahan baku masih jadi kendala sehingga sinergi dalam mengakses bahan baku emas atau perak berkualitas penting. Bahan baku emas dan perak berkualitas bisa diperoleh di PT. Antam, Jakarta, namun karena volume pembelian harus dalam jumlah tertentu sehingga sinergi antarperajin dalam penguatan modal jadi penting.

Data BPS Bali, ekspor berbagai jenis perhiasan permata Bali pada April 2018 tercatat senilai 5,85 juta dolar AS atau meningkat sebesar 32,94 persen dibandingkan 4,40 juta dolar AS pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Mata dagangan hasil sentuhan tangan-tangan terampil perajin Bali itu mampu memberikan kontribusi 11,91 persen dari total ekspor Bali sebesar 49,13 juta dolar AS selama bulan April 2018. Aneka jenis perhiasan (permata) antara lain berupa cincin, kalung, aneka jenis cendera mata menyerupai bunga-bungaan dari bahan baku emas untuk perhiasan kepala bagi wanita serta sumpel perhiasan telinga bagi wanita itu paling banyak diserap pasaran Singapura 35,31 persen dan Amerika Serikat 26,91 persen.

Sejumlah negara lainnya yang menyerap hasil perhiasan dari bahan baku emas dan perak itu juga Hong Kong 11,03 persen, Jerman 4,74 persen, Belanda 2,45 persen, Jepang 0,55 persen, China 1,49 persen, Australia 0,99 persen, Prancis 0,96 persen, Spanyol 0,54 persen dan sisanya 2,45 persen ke berbagai negara lain. Sementara produk fashion berupa tekstil dan produk tekstil  ( TPT) berdasarkan data Kemenperin, menargetkan ekspor TPT sepanjang 2018 bisa tembus 14 miliar dolar atau Rp223,6 triliun (kurs Rp14.907 per dolar AS).

Sepanjang Januari-Juli 2018 nilai pengapalan produk TPT Indonesia sudah mencapai 7,74 miliar dolaratau setara Rp115,3 triliun. (gun)