Stabilitas Sektor Jasa Keuangan masih Terjaga

Mangupura (Bisnis Bali) – Stabilitas sektor jasa keuangan masih dalam kondisi terjaga di tengah kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia yang masih mengalami volatilitas akibat berlanjutnya ketidakpastian di pasar keuangan global.

“Itu berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan yang dilakukan pada September 2018,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wilayah 8 Bali Nusra, Hizbullah di Nusa Dua.

Ia mengatakan, dalam beberapa waktu terakhir, kondisi pasar keuangan global masih mengalami ketidakpastian dipengaruhi oleh berlanjutnya isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta normalisasi kebijakan moneter AS dan Eropa.

Ketidakpastian ini telah meningkatkan tekanan di pasar keuangan emerging markets, khususnya di negara-negara yang mengalami ketidakseimbangan eksternal. Beberapa faktor risiko yang menjadi perhatian di antaranya adalah perkembangan suku bunga dan likuiditas global, gejolak di pasar keuangan emerging markets, dan tensi perang dagang.

“OJK dalam hal ini akan mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional serta memperkuat koordinasi dengan lembaga-lembaga terkait,” ujarnya.

Menurutnya di tengah dinamika di pasar keuangan global, pasar modal domestik per September 2018 terpantau masih relatif stabil. Per 21 September 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tipis 1,0 persen secara mtd dengan investor nonresiden mencatatkan net sell Rp2,5 triliun. Secara ytd, IHSG terkoreksi sebesar 6,3 persen dengan investor nonresiden mencatatkan net sell Rp52,7 triliun.

Sementara pada periode Januari sampai dengan 21 September 2018, penghimpunan dana oleh korporasi telah mencapai Rp130 triliun, dengan emiten baru mencapai 39 perusahaan dan total dana kelolaan investasi sebesar Rp740,69 triliun, meningkat 7,58 persen dibandingkan akhir tahun 2017. (dik)