Regina Raquel, Banggan Gunakan Produk Lokal

REGINA Raquel memiliki prinsip jika bukan kita yang bangga menggunakan produk lokal, siapa lagi yang akan memperkenalkan produk asli daerah. Dengan menggandeng perajin lokal, melatari pebisnis wanita ini memproduksi berbagai kerajinan tangan dalam bentuk tas dari bahan alam sepert rotan, enceng gondok, bambu dan lainnya.

“Tidak dipungkiri terkadang produk kerajinan asli daerah kurang dikenal masyarakat lokal, namun ketika produk itu banyak digunakan wisatawan mancanegara baru kemudian merasa memiliki,” kata Pemilik Bali Rotan tersebut.

Regina mengakui, produk tas dari bahan rotan kini memiliki peluang yang sangat besar di pasar ASEAN hingga Australia, termasuk pasar domestik. Pasar ASEAN seperti Singapura, Malaysia memiliki pasar yang cukup positif dan terus bertumbuh yaitu mencapai 20 persen dan sisanya pasar domestik.

“Pasar mancanegara terbuka dengan kerajinan tas rotan karena bentuk yang unik juga bahan baku yang alam dan hanya bisa ditemui di Indonesia,” papar wanita berkacamata tersebut.

Terjun di bisnis kerajinan alam tersebut, kreator lokal yang mengikuti Makerfest 2018 di Bali ini menerangkan memulainya sejak 2017. Itu pun awalnya karena untuk mix and match pakaian yang akan digunakannya pada acara di Bali.

“Dengan memodifikasi tas bahan rotan ternyata cocok dengan pakaian dan banyak yang suka, sehingga sejak saat itu mulai mengembangkan bisnis kerajinan tas bahan alam lewat online,” terangnya.

Ia tak memungkiri memulai bisnis, dari dalam diri sebenarnya ada rasa takut memulai sesuatu. Saat itu banyak pertimbangan yang dipikirkan mulai apakah akan laku, ambil produk di mana, stok, jualan seperti apa, karyawan dan periodiknya selanjutnya.

Tetapi semua itu dilaluinya dengan berpikiran harus bisa mengalahkan rasa takut. Ia berpikiran yang penting terjun dulu. “Bagaimana usaha selanjutnya melihat nanti aja,” ujarnya.

Regina pun menerangkan memulai bisnisnya tanpa modal sepeserpun. Ia mulai bisnis dengan cara online sistem pay order (PO) ketika ada pembayaran baru disiapkan produk. Bisnis tidak dimulai secara offline mengingat cost tinggi di awal karena digunakan untuk persiapan sewa toko dan karyawan.

“Dengan adanya e-commerce sangat membantu kreator lokal untuk berjualan dan marketing,” paparnya.

Kini dengan penjualan secara online, pihaknya mampu mengahsilkan omzet kotor Rp 40 juta perbulan dengan penjualan produk kurang lebih 300 pcs setiap bulannya. Harga produk bervariasi mulai Rp 100 ribu ditawarkannya. Kini pihaknya fokus bagaimana memperkenalkan produk Bali ini dan berusaha mendorong pekerjaan lokal jadi tuan rumah sendiri. Ia pun antusiasme adanya Makerfest di Bali.

“Melalui kegiatan ini orang-orang dapat mengetahui bahwa Denpasar tidak hanya terkenal dengan pariwisatanya saja tetapi juga kreativitas dan inovasi yang dimiliki oleh para kreator lokalnya,” terangnya.

Ia berharap semangat berkreasi para kreator lokal Denpasar dapat menggerakkan semangat berkreasi seluruh kreator lokal di sekitarnya. (dik)