Petulo, Jajanan Pasar dengan Kuah Manis

Denpasar (Bisnis Bali) – Banyak orang yang masih gemar belanja di pasar tradisional meski dewasa ini banyak pasar modern mulai dibuka. Hal ini dikarenakan di pasar tradisional masih ada sistem tawar menawar yang menarik bagi sebagian besar orang. Selain itu berbagai makanan yang sudah jarang ditemui masih ada di pasar tradisional.

Salah satu jajanan pasar yang bisa ditemui di pasar tradisional adalah jajan mie atau yang juga disebut jajan petulo. Bentuknya yang unik membuat jajan ini sangat menarik untuk dicicipi.

“Disebut jajan mie, karena bentuknya yang menyerupai mie. Bahan dasarnya adalah tepung beras dan tapioka, serta bahan lain yang kemudian diberi pewarna. Biasanya warna yang digunakan adalah hijau dan merah, tak ada ketentuan untuk warna hanya akan lebih menarik saja,” demikian diungkapkan penjual jajan petulo Ni Luh Aris Septiari.

Jajan petulo ini hampir mirib serabi yang dimakan dilengkapi dengan kuah yang manis. “Jajannya sendiri sedikit hambar, namun apabila disantap dengan kuah pelengkap yang dibuat dari santan, gula merah,dan garam, membuat jajan petulo ini jadi nikamat untuk disantap,” ujarnya.

Jajan petulo ini memang tergolong langka dijumpai di pasaran, karenanya petulo buatan Luh Aris Septiani yang membuka lapaknya dengan nama jajanan Men Galuh ini banyak memiliki penikmat.

“Saya khusus buat jajanan tradisional, mulai dari laklak, lupis, cenil, bubur ketan hitam, bubur sumsum, cerorot, dan petulo. dari semua jenis itu petulo memang paling laris, bahkan banyak yang tidak kebagian dan terpaksa harus ikut antrean pemesanan keesokan harinya,” tambahnya.

Yang paling penting dalam proses pembuatan petulo ini adalah pembuatan kuahnya. “Kuah inilah yang menentukan enak tidaknya jajan petulo, kadang kita juga isi nangka atau pandan agar rasa kuahnya enak.”  (ita)