Perkebunan Salak Sibetan Diusulkan jadi Lokasi GIAHS

Amlapura (Bisnis Bali) – Perkebunan salak di Karangasem, ditinjau tim  kunjungan lapangan Food and Agriculture (FAO) United Nasions (UN), Sabtu (3/11). Rombongan diterima di balai masyarakat Dukuh Sibetan. Perwakilan rombongan FAO itu, mengaku terkesan dan optimis membantu meloloskan perkebunan salak di Karangasem itu sebagai lokasi pertanian berkelanjutan atau dikenal dengan GIAHS.

Rombongan yang dipimpin Steven Rajeths dan Yeyet Kolisa Olaiton itu usai pertemuan dengan kelompok tani salak Dukuh lestari Sibetan, dan Bupati Karangasem, langsung meninjau tanaman salak Ki Dukuh Sakti berupa Pura Dukuh Sakti, serta ke perkebunan salak yang selama ini menjadi agrowisata Salak Sibetan. Rombongan juga meninjau hamparan perkebunan salak, serta keindahan alam dari Bukit Pengukuran Dukuh Sibetan.

Steven mengatakan, pihaknya sudah berkeliling di banyak negara. Pihaknya terkesan dengan perkebunan salak di Karangasem, yang terintegrasi dengan berbagai jenis tanaman pangan lainnya dengan konservasi lingkungan dan pertanian tradisional.  Berkunjung ke Karangasem, pihaknya merasa seperti pulang ke kampungnya, setelah lama melanglang buana ke Negara-negara tropis untuk  berkarir.

‘’Saya mendapatkan pengetahuan berharga, selama ini saya hanya mengenal satu jenis salak. Ternyata di Karangasem ada lebih dari 12 jenis salak. Salak ini, hendaknya jangan lagi disebut snack fruit (buah ular), cukup salak atau salak Karangasem,’’ paparnya.

Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri menyampaikan, tanaman salak pertama kali diperkirakan dikembangkan pada zaman Ki Dukuh sakti Sibetan sekitar 300 tahun lalu. Dari prasasti Ki Dukuh Sakti itu, diketahui tanaman yang dikembangkan saat itu wani dan salak. Kini, tanaman salak berkembang dan petani menemukan setidaknya 12 jenis, seperti salak gula pasir, salak nangka, salak putih atau salak toris, salak barak serta salak muani.

‘’Kami berharap tim perwakilan dari FAO Badan BPP di bidang pangan dan pertanian itu, bisa membantu sehingga di Karangaem ada GIAHS dan kalau bisa disampaikan ke seluruh dunia, GIAHS perkebunan salak di Karangasem sebagai konservasi, dengan hamaparan indah dan layak dikunjuungi dalam rangka liburan dan kegiatan lainnya,’’ tandasnya. (bud)