Perempuan Bali Berpotensi Tingkatkan Ekonomi Keluarga

Tabanan (Bisnis Bali) – Dengan segudang kegiatan terkait adat dan budaya, perempuan Bali memiliki potensi yang besar untuk ikut berperan meningkatkan ekonomi keluarga. Potensi tersebut, bahkan tanpa mengurangi tugas atau peran perempuan Bali di dalam menyelesaikan urusan domestik (rumah tangga).

Demikian diungkapkan, Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Bali Dr., AA., Ayu Ngurah Tini Rusmini Gorda., SH., MM.,MH disela-sela workshop yang digelar media Bisnis Bali bekerjasama dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Agung, Viva cosmetics, IWAPI Bali, WHDI Tabanan, dan Pasemetonan Agung Pratisentana Sri Nararya Kenceng yang digelar di Puri Agung Tabanan, Minggu (4/11).

Tini Rusmini di hadapan puluhan peserta workshop mengungkapkan, perempuan Bali tanpa disadari sebenarnya sudah memiliki jiwa atau etos kerja seorang wiraswasta. Sebab, kata kunci dari seorang wiraswasta adalah semangat yang tidak pernah pudar, sehingga lahir sebagai perempuan Bali adalah merupakan anugrah yang luar biasa.

“Semangat tersebut, salah satunya dengan mengikuti workshop tata kecantikan ini. Ketika ada tahapan-tahapan workshop dilanjutkan dengan pelatihan, siapa tahu dari pelatihan tersebut ada fashion dari wanita Bali yang bisa diadopsi untuk mendatangkan income menopang ekonomi keluarga,” tuturnya.

Menurutnya, peluang tersebut sangat terbuka untuk diraih oleh perempuan Bali, bahkan tanpa harus mengungai peran sebagai ibu rumah tangga. Harapannya, saat ini perempuan Bali ini tidak hanya berkutat pada urusan rumah tangga yang sekaligus mejadi beban bagi suami, namun bagaimana bisa perempuan Bali untuk melakukan perannya dalam keluarga, namun bisa juga berperan sebagai penyumbang pendapatan ekonomi keluarga.

Artinya, dengan memanfaatkan potensi tersebut, maka secara tidak langsung perempuan Bali ini ikut serta bisa mengajegkan Bali dan tata rias Bali yang baik agar tidak menjadi kebablasan.

Selain itu, untuk menjadi wirausaha, maka seorang perempuan juga harus memiliki kunci 5 O. Yakni, O yang pertama adalah otak yang merupakan representasi dari kerja untuk melahirkan suatu kreatifitas usaha. Lanjutnya, O berikutnya adalah otot sebagai upaya merealisasikan pemikiran dalam merintis suatu usaha, O lainnya adalah omongan dengan salah satunya memanfaatkan media sosial hasil dari usaha yang dilakukan bisa diperkenalkan kehalayak ramai atau memberanikan diri untuk bersaing dengan usaha sejenis lainnya. Selain itu, O lainnya adalah harus memiliki orang atau jejaring sebagai pangsa pasar dari usaha yang dilakoni, dan O yang terakhir adalah ongkos untuk menopang keberlangsungan usaha yang dilakoni.

“Yakinlah dengan berbekal 5 O ini, maka setelah mengikuti workshop ini akan menjadikan perempuan Bali yang berbeda dengan memiliki pemikiran untuk berani berwirausaha,” tegasnya. (man)