Bank Daerah Siap Sambut Fintech

Denpasar (Bisnis Bali) – Seiring perkembangan teknologi saat ini, bank daerah siap menyambut perusahaan financial technology (fintech). Dengan adanya kolaborasi antara perbankan dan perusahaan keuangan berbasis teknologi secara online, diharapkan bisa mempercepat inklusi dan terbukanya akses keuangan kepada masyarakat.

Plt. Dirut Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma di Renon, Senin (5/11) mengatakan, sebagai bank daerah tak pernah menganggap keberadaan fintech sebagai pesaing. Bank milik krama Bali ini malah siap bersinergi mengingat fintech berkembang sesuai perkembangan teknologi dan memenuhi kebutuhan tren kalangan milenial.

“Jika diperhatikan 40 persen nasabah adalah generasi milenial yang menginkan pelayanan cepat melalui teknologi, sehingga bank pun harus bisa mengikuti perkembangan tersebut baik secara sendiri maupun sinergi dengan fintech,” katanya.

Untuk dapat berkolaborasi dengan fintech peer to peer lending, diakui, tentu harus mengikuti peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sesuai kebutuhan bank daerah. Bank pun akan melakukan sinergi tentunya fintech yang sudah terdaftar di OJK.

“Bentuk kerja samanya pun harus jelas mengingat ada sharing profit,” ujarnya.

Sementara dari individu di luar berkolaborasi dengan fintech, bank BPD  akan mengembangkan diri dari sisi teknologi agar dapat mempercepat layanan kepada masayrakat.

“Sesuai rencana bisnis pada 2019, BPD Bali akan menciptakan suatu layanan tentang digital brand, di mana nasabah ke depannya dalam bertranskasi dan membuka rekening tanpa harus melakukan tatap muka dengan petugas bank,” ungkapnya.

Direktur Operasional Bank BPD Bali IB Gede Setia Yasa mengatakan hal serupa. Menurutnya, fintech bukan pesaing bank mengingat teknologi fintech hampir sama, hanya saja mekanisme proses percepatannya saja yang berbeda seperti proses pencairan kredit biasa, proses pembukaan pembayaran maupun pemberian perizinannya sangat mudah, soal agunan sehingga menjadi berbeda dengan bank.

“Fintech sumber dananya tidak dari masyarakat karena bisa dari investor, perusahaan sehingga peraturan penggunaannya berbeda dengan bank. Bank jelas sumber dana dari masyarakat sehingga jelas risikonya menjadi berbeda,” ucapnya.

Untuk itu pihaknya berharap dengan adanya aturan dari OJK tentang digital banking, bisa memberikan keluluasaan kepada bank lokal maupun dunia perbankan dalam melakukukan akuisisi pasar perbankan yang optimal.

“Kita harapkan dengan adanya layanan berbasis teknologi bisa memudahkan bagi nasabah,” paparnya.

Sebelumnya pemerhati perbankan Dr. Indrawan mengatakan, perbankan diharapkan bisa mengembangkan diri sesuai perkembangan teknologi saat ini, salah satunya bisa berkolaborasi dengan perusahaan fintech.

Perkembangan fintech peer to peer lending tidak dipungkiri kini makin banyak dengan mengutamakan kecepatan dan menyasar kalangan yang tidak bankable. “Bank konvensional tentu harus bisa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi bila tidak ingin kalah bersaing dengan fintech. Minimal bisa berkolaborasi,” katanya.

Menurutnya kolaborasi perlu mengingat fintech memiliki cara kerja yang hampir sama dengan bank, yakni menyediakan jasa pembayaran dan pinjam-meminjam dana dengan sistem online. Fintech peer to peer lending umumnya berperan sebagai jembatan penghubung bagi institusi keuangan yang ingin memperbesar pangsa pasar kreditnya. (dik)