Mangupura (Bisnis Bali) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) minta BPR menyikapi menjamurnya perkembangan industri Financial Technologi (Fintech). Ketua Perbarindo Korcam Mengwi, IGW Dwisandita Minggu (4/11) menilai, BPR mesti bersaing dengan layanan Fintech untuk menggaet debitur.

Direktur Utama BPR Sapta Cristy Utama ini mengungkapkan BPR mesti menyikapi perkembangan fintech. BPR tentunya bisa mengimbangi keberadaan Industri Fintech dengan menyediakan layanan menyerupai Fintech. .

Industri BPR berada dalam naungan Perbarindo bisa membuat usulan ke OJK agar dapat bekerja sama dengan perusahaan penyedia aplikasi seperti Fintech. Menurutnya, BPR dapat menyerap perkembangan teknologi terkait dengan lembaga jasa keuangan. Ini tentu tak melanggar perundangan-undangan sesuai POJK terkait dengan teknologi informasi.

Dwisandita melihat BPR benar-benar bersaing denga fintech. Perusahaan Fintech Lending yang melayani baik pendana maupun peminjam melalui Peer to Peer Lending (P2P Lending).

Perusahaan Fintech memiliki machine learning yang inovatif. Ini menghubungkan pemilik dana dengan peminjam dalam sebuah platform teknologi mutakhir. Ini di mana pemilik dana dapat berinvestasi dan peminjam dapat mengajukan pinjaman melalui internet.

Menurutnya, Fintech tersebut dapat melakukan analisa secara system. Kemudahan yang diperoleh dalam melakukan akses bagi pemilik dana dan peminjam adalah memangkas biaya dan mempercepat proses sehingga lebih efektif.

Proses dan layanan yang ditawarkan perusahaan fintech akan menjadi saingan bagi BPR dalam menyalurkan dana untuk peminjam.” Penyedia aplikasi P2P Lending yang ada di Indonesia telah banyak yang mendapat persetujuan dari otoritas jasa keuangan yang menjadi pesaing BPR saat ini,” ucap Dwisandita.

Direktur Utama BPR Kanti, Made Arya Amitaba  mengatakan pesatnya pertumbuhan industri financial technology (fintech) bisa menjadi tantangan utama bagi sektor perbankan. Untuk mengoptimalkan penyaluran kredit, bank perkreditan rakyat (BPR) bisa belajar dan bekerjasama dengan industri fintech.

BPR bisa banyak belajar dari proses perkembangan fintech. Pertumbuhan industri fintech begitu pesat. Fintech pantas diberikan apresiasi karena memiliki kredit bermasalah (NPL) yang rendah. Bahkan NPL industri fintech di bawah 1 persen.

Menurutnya, BPR bisa saja bekerjasama dengan industri fintech. Ini dalam upaya BPR bisa mengoptimalkan penyaluran kredit.  Bukan hal yang tabu jika BPR menjalin MoU dengan industri fintech. BPR dan industri fintech sama-sama menjalankan fungsi intermediasi. Bisnis fintech sudah mampu melayani pinjaman maupun penghimpunan dana.

Ia melihat melalui jalinan kerjasama, akan ada transfer pengetahuan antara BPR dengan industri fintech. Bahkan ada transfer teknologi antara fintech dan BPR. Ada pertukaran informasi data nasabah melalui kerjasama fintech dan BPR. Permohonan kredit nasabah yang tidak mampu dikafer BPR bisa diserahkan untuk ditangani fintech.

Made Arya Amitaba menambahkan MoU antara BPR dengan fintech merupakan kerjasama saling menguntungkan. Ini tidak akan merugikan salah satu pihak. ” Kerjasama BPR dan fintech adalah kerjasama jangka panjang,” tambahnya. (kup)