Mangupura (Bisnis Bali) – Our Ocean Conference (OOC) 2018 yang berlangsung di Bali berhasil mengumpulkan 287 komitmen nyata, dengan nilai lebih dari 10 miliar dolar AS dan menciptakan 14 juta kilometer persegi Kawasan Konservasi Laut.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  mengatakan, jumlah tersebut melebihi harapan bersama. “Kami berterima kasih atas kontribusi kolektif Bapak/Ibu sekalian dalam menentukan masa depan laut dan isinya, agar lebih lestari dan dikelola secara berkelanjutan,” ucap Menteri Susi di hadapan peserta OOC 2018.

Sebagai salah satu sumber rantai kehidupan manusia, saat ini kelestarian laut dinilai mengkhawatirkan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya sampah plastik yang mencemarkan kesehatan laut. Sampah plastik tersebut akan terurai menjadi mikroplastik. Ikan-ikan di laut yang kerap dikonsumsi, akan memakan mikroplastik tersebut.

“Ini tentunya sangat membahayakan diri kita sendiri, karena kita makan ikan yang mengandung mikroplastik,” tegasnya.

Selain itu, banyaknya aktivitas illegal fishing juga menjadi ancaman bagi kelestarian laut. Pelaku illegal fishing dan destructive fishing kerap kali menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, sehingga mencemarkan ekologi laut. “93 persen ikan kami dieksploitasi berlebihan oleh alat tangkap yang tidak ramah lingkungan oleh pelaku illegal fishing,” tambahnya.

Indonesia telah melakukan upaya untuk melindungi lautan dengan berperang melawan illegal fishing, dan telah berhasil menenggelamkan 488 kapal pelaku illegal fishing. “Kami memberlakukan moratorium selama satu tahun terhadap kapal ex asing untuk beroperasi. Kami juga melarang trawl yang telah merusak perairan kami,” jelas Menteri Susi.

Dalam menjaga kelestarian laut secara bertanggung jawab, lanjut Menteri Susi, diperlukan koordinasi dan kerja sama yang erat antar negara, terutama kerjasama regional. “Indonesia belajar, tanpa adanya kerja sama dengan negara tetangga, apa yang kita lakukan belumlah cukup,” sebutnya.

 “Kita harus menyadari bukan laut yang membutuhkan kita, melainkan kita yang membutuhkan laut. Laut mampu memulihkan dirinya sendiri jika kita memberinya kesempatan,” tutupnya. (dar)