Klungkung Kekurangan 26 Dokter Spesialis

Semarapura (Bali Post) – Sejumlah kabupaten di Bali, kini mengalami krisis dokter spesialis. Seperti di Kabupaten Klungkung, sebagai RSUD tipe B, saat ini baru ada sebanyak 36 dokter spesialis. Padahal, kebutuhan dokter spesialis di RSUD Klungkung, mencapai 62 orang.

Direktur RSUD Klungkung, dr. Nyoman Kesuma, Senin (29/10), menyampaikan, kekurangan tenaga dokter spesialis ini sudah terjadi sejak dulu. Tetapi, dia mengakui cukup sulit memenuhi kekurangan 26 dokter spesialis lagi, karena dokter spesialis pada umumnya lebih memilih bertugas di kota-kota besar, seperti di Kota Denpasar. Selain ada rumah sakit pemerintah, disana juga ada banyak rumah sakit swasta.

Pihaknya mengaku sempat berharap pada peluang penerimaan CPNS tahun ini, untuk memenuhi kekurangan dokter spesialis itu. Tetapi, formasi dari pusat yang turun hanya delapan formasi, antara lain untuk kuota dokter spesialis paru-paru, saraf, orthopedi, penyakit dalam, jantung, patologi anatomi dan spesialis gigi. Lebih miris lagi, dokter yang mengajukan lamaran hanya tiga orang, untuk spesialis penyakit dalam, orthopedi dan spesialis gigi. “Awalnya ada lima, tetapi dua pelamar lainnya, tidak bisa ikut seleksi karena umurnya sudah kelewatan, jadi tidak memenuhi syarat,” kata dr. Kesuma.

Sejak dipercaya menjadi direktur, dia mengaku sudah melakukan berbagai upaya, untuk menarik minat dokter spesialis bekerja di RSUD Klungkung. Salah satunya, dengan menaikkan gaji pokok dari Rp 6 juta menjadi Rp 10 juta. Cara ini awalnya membuahkan hasil, seiring dengan tuntutan naiknya kelas rumah sakit menjadi tipe B.

Tetapi belakangan rumah sakit lain, kata dia, juga melakukan upaya serupa. Sehingga, persaingan kembali merata di setiap daerah dan RSUD Klungkung kembali kesulitan memenuhi kebutuhan ideal dokter spesialis.

Menurutnya, banyak hal yang membuat para dokter spesialis memilih bekerja di kota-kota besar. Selain bisa bekerja di rumah sakit pemerintah, diluar jam kerja itu, dia juga bisa bekerja untuk rumah sakit swasta, untuk memaksimalkan peluang profesinya itu. Situasi ini juga didukung oleh pilihan rumah sakit swasta di Kota Denpasar yang juga cukup banyak, sehingga peluang untuk berkarier juga tentu lebih luas. Selain itu, saat buka praktek, respons masyarakat juga lebih tinggi, ketimbang memilih bertugas di kabupaten dengan tingkat mobilitas masyarakat yang rendah. (kmb)