Disdagprin Rancang Bentuk Koperasi, Atasi Keterbatasan Bahan Baku

Denpasar (Bisnis Bali) – Pelaku industri saat ini mengakui keterbatasan mendapatkan bahan baku, khususnya yang didatangkan dari luar negeri. Melihat situasi tersebut Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagprin) Provinsi Bali berencana membuat sebuah kelembagaan yang berbetuk koperasi yang bertujuan memberi kemudahan mendatangkan bahan baku.

Salah seorang pelaku industri kain tenun, Pande Putu Ngurah Saputra Wiguna, mengakui, selain terbatas, harga bahan baku khususnya benang cukup tinggi saat ini. Hal ini membuatnya makin terjepit ditengah daya beli menurun akibat perlemahan ekonomi saat ini.

“Selain bahan baku mahal, ongkos tenaga kerja juga tinggi. Sementara harga jual tidak bisa dinaikan karena daya beli menurun,” ungkapnya sembari mengatakan saat ini terpaksa menurunkan margin yang didapat.

Dengan akan dirancangnya sebuah kelembagaan berupa koperasi diharapkan mampu mempermudah dalam mendapatkan bahan baku. Kepala Disdagprin Provinsi Bali, I Putu Astawa, mengakui kelangkaan bahan baku menjadi kendala dalam membangun kerajinan tekstil. Secara spesifik hal yang bisa dilakukan saat ini dalam upaya penyediaaan bahan baku yaitu, dengan skema kebijakan dari Menteri Ekonomi yaitu melalui pula pusat logistik berikat (PLB).

“Ini akan memberi kemudahan penyimpanan bahan baku dalam jumlah banyak dan bisa diambil secara bertahap dengan jumlah yang minim,” ungkapnya.

Selain itu, pelaku industri kerajinan tekstil yang telah tergabung dalam koperasi juga bisa bekerjasama dalam mengumpulkan bahan baku. “Ini tentunya juga akan efesien dari segi biaya,” ujarnya.

Diakuinya, bahan baku untuk produk industri khususnya tekstil di Bali selama ini memang mengandalkan suplay dari luar negeri. Hal itu dikarenakan produksi dalam negeri belum mampu menghasilkan kualitas yang sesuai dengan standar kebutuhan produk yang akan di ekspor. (wid)