Pasang Surut Penjualan Motor Bekas tak Terelakkan

Denpasar (Bisnis Bali) – Dalam bisnis penjualan sepeda motor ada masa-masa mengalami pasang surut. Hal itu tidak bisa terelakan berkaitan dengan kondisi ekonomi dan kemampuan daya beli masyarakat.

“Untuk momen tiga bulan jelang pergantian tahun seperti saat ini, masa-masa tersebut bisa saja terjadi,” kata pengelola motor bekas di Renon, Indrawan.

Menurutnya, pasang surut penjualan tidak hanya di penjualan motor bekas semata, diler pun merasakan kondisi serupa. Penjualan di satu diler bisa ramai belum tentu tempat lain akan sama. Dalam berbisnis faktor eksternal banyak mempengaruhi, termasuk internal seperti tempat dan segen pasar banyak berpengaruh.

 “Satu contoh saat menjelang akhir tahun, penjualan sepeda motor memang tidak selamanya mengalami peningkatan, ada kalanya mengalami penurunan karena momen hari raya maupun faktor lainnya,” ujarnya.

Masuk akhir Oktober ini misalnya, penjualan masih jalan di tempat. Penjualan rata-rata masih hitungan jari. Harapan kini masuk November mendatang penjualan akan terangkat lebih besar tumbuh 20 persen.

Menurutnya, bila melihat penjualan tiga bulan terakhir, transaksi masih di kisaran 6-10 unit atau tergolong jumlah yang standar untuk penjualan bulanan. Tidak terlalu ramai transaksi karena konsumen masih menantikan produk baru apa yang akan dikeluarkan pada 2018 ini, termasuk 2019 mendatang. Keadaan tersebut membuat konsumen melakukan aksi tunggu dan imbasnya pada penjualan motor bekas.

Ia pun memprediksi, kondisi ini tidak hanya berlaku pada penjualan motor bekas semata, penjualan motor produksi baru mengalami keadaan yang serupa. Konsumen banyak yang enggan membeli motor pada momen menjelang akhir tahun atau menjelang tahun baru. Mereka beranggapan makin tua umur kendaraan maka makin rendah pula nilai jualnya.

“Ini pula membuat penjual tidak lagi memasang target penjualan tinggi,” ungkapnya. Jenis motor bekas masih tertuju jenis matik disusul sport dan bebek.

Sementara penjual motor bekas lainnya di Tohpati, Bagus Karya mengatakan, pasang surut penjualan motor tidak hanya momen tutup tahun saja.

“Umumnya liburan ada lonjakan penjualan, kenyataanya tahun ini masih minim dari sisi jumlah, sehingga tidak kaget bila tutup tahun kondisi masih sama lesu,” paparnya. (dik)