BI 7 DRRR Tetap 5,75 Persen, Tantangan Bank Turunkan NPL

Denpasar (Bisnis Bali) – Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuannya atau 7 Days Reverse Repo Rate (7 DRRR) di level 5,75 persen pada Oktober 2018. BI 7 DRRR yang bertahan ini diprediksi memberikan peluang bagi perbankan untuk dapat menurunkan rasio kredit bermasalah (NPL)-nya.

“Lebih mengarah tantangan bagi perbankan bisa menurunkan NPL hingga akhir tahun,” kata pemerhati perbankan Kusumayani, M.M. di Sanur.

Bila suku bunga acuan bertahan 5,75 persen berarti BI berharap nilai tukar rupiah dan tingkat inflasi akan stabil atau terkendali. Suku bunga acuan dan inflasi yang terkendali maka membawa angin segar bagi bisnis perbankan yang berusaha untuk menekan laju NPL tahun ini sehingga suku bunga kredit akan turun segera.

“Satu sisi pertumbuhan kredit masih terbatas karena masih terbatasnya permintaan kredit,” ujarnya.

Bertahannya BI 7 DRR ini diprediksi juga tidak akan mengganggu likuiditas perbankan. Kini diharapkan tidak isu yang terjadi secara global karena rentan berimbas pada kondisi ekonomi dalam negeri, dan selaras pengaruhi kondisi perbankan.

Sebelumnya Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Bali Bambang Sugiharto optimistis kinerja perbankan akan tetap tumbuh, meski tidak terlalu tinggi pencapainya. Sektor utama yang potensial dibiayai perbankan Bali masih dari pariwisata dan industri penunjangnya. Sektor properti juga sudah mulai bergerak positif tahun ini sehingga menjadi sektor yang potensial bagi perbankan.

Diakui BI 7 DRRR tetap sebagai upaya BI untuk tetap menjaga pemulihan pertumbuhan ekonomian domestik. Itu sesuai sasaran BI dalam upaya pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran. Ini juga baik bagi kinerja perbankan ke depannya, bila kondisi ekonomi membaik.

Terkait suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing berada di level 5,0 persen dan 6,5 persen, ia tidak memungkiri, kalangan perbankan diprediksi masih akan sulit untuk memangkas suku bunga kredit maupun deposito hingga akhir tahun ini. Berbagai pertimbangan masih membayangi kalangan perbankan untuk mempertahankan suku bunganya mulai sentimen kebijakan ekonomi global maupun dalam negeri.

“Tidak dipungkiri tahun ini para bankir bank masih akan mempertahankan suku bunganya karena pertimbangan kondisi ekonomi global dan dalam negeri,” paparnya. (dik)