Sektor Perdagangan Terpuruk Akibat Pelemahan Rupiah

Denpasar(Bisnis Bali) – Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar memberi dampak bagi sektor perdagangan (ekspor dan impor). Tidak hanya tertekan oleh harga bahan baku produksi yang kian meningkat terutama yang didatangkan dari luar negeri, pasar ekspor pun kian meredup. Seperti apa kondisinya?

Ketergantungakan masyarakat terhadap produk impor memberi kegelisahan saat nilai tukar dolar terhadap rupiah terus menguat. Tak hanya elektronik, beberapa produk sederhana lainnya, seperti kedelai, tepung terigu, pakan ternak dan beberapa jenis produk lainnya, negara ini termasuk Bali masih bergantung pada suplai luar Bali. Kondisi ini tak hanya memberi dampak pada mahalnya produk yang dipakai (konsumtif) masyarakat, namun juga pada produk-produk yang menjadi bahan baku terhadap beberapa sektor industri.

Owner dari CV Tarum Bali, I Made Andika Putra mengaku kesulitan dalam memperoleh bahan baku untuk produksi produk berupa kain dengan pewarna alam yang pemasarannya 99 persen ekspor. Kondisi ini membuatnya terancam kehilangan customer akibat tak bisanya memenuhi permintaan pasar, di tengah harga bahan baku yang tinggi serta langka. Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspronya yaitu Australia yang paling banyak dan juga ada ke Jepang, Amerika, Jerman, California, Afrika, Portugal, dll.

Bahan baku memang ia dapatkan dari Jawa. Namun ia yakini bahan baku tersebut didatangkan dari Cina. Seperti benang yang dibelinya dalam jumlah besar (bal). “Karena kita disini tidak punya pertanian kapas sehingga tidak bisa membuat bahan baku benang,” ungkapnya belum lama ini.

Disamping itu, dengan menguatnya dolar, seharusnya membuatnya untung. Karena customernya bisa membeli lebih banyak dengan harga murah. “Kemarin tamu saya juga bilang begitu, terutama yang ke Eropa karena Euronya bagus sekali. Namun tidak semudah itu terjadi. Karena kain tersebut ketika dijual kembali, harganya menjadi lebih mahal,” ujarnya sembari mengatakan meski dolar menguat tak berpengaruh signifikan bagi pengusaha eksportir seperti dirinya.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom, Prof. Dr. Ida Bagus Raka Suardana, S.E., M.M, mengatakan, mengatasi hal ini perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak termasuk masyarakat. Di satu sisi penggunaan produk ataupun bahan baku impor harus lebih diminimalisir dengan mulai melirik potensi sumber daya alam yang ada di Indonesia. Demikian juga pengusaha, agar tidak terlalu banyak menggunakan dolar dalam transaksi. “Termasuk juga bagi masyarakat yang menyimpan banyak dolar sekaranglah saatnya mulai menukarkan. Demikian juga masyarakat secara konsumtif agar menekan penggunaan produk impor,” imbuhnya.  (wid)