Model lampu perangkap hama yang diaplikasikan petani P4S Batur Sari Kebon Jero

Tabanan (Bisnis Bali) – Kesadaran petani di Kabupaten Tabanan guna menjaga produksi berkualitas organik makin tinggi. Salah satunya dicerminkan oleh petani di desa wisata Munduk Temu, telah mengadopsi teknologi tepat guna dalam pengendalian hama tanaman.

Petani salak Gula Pasir, Banjar Kebon Jero, Desa Munduk Temu, Ketut Suardika, mengungkapkan, saat ini tengah mencoba menggunakan teknologi tepat guna berupa lampu perangkap hama yang ramah lingkungn. Alat tersebut diadopsi dalam rangka untuk pengendalian hama tanaman dengan tanpa menggunakan obat kandungan kimia.

“Produk ini disebut teknologi tepat guna yang diproduksi oleh lembaga P4S Joglo Nganjuk (Jawa Timur). Kebetulan alat tersebut sempat diperkenalkan pada ajang temu karya tepat guna (TTG) di GWK lalu dan mendapat prestasi harapa 1 tingkat nasional,” tuturnya.

Jelasnya yang juga berkecimpung pada P4S Batur Sari Kebon Jero, dengan prestasi yang didapat alat tersebut, ia berinisiatif untuk mengadopsi lampu perangkap hama tersebut mengingat dengan kondisi Desa Munduk Temu yang merupakan kawasan desa wisata di Tabanan dengan oriestasi pertanian organik, maka dengan teknologi tepat guna tersebut akan sangat efektif dalam rangka mendukung hasil produksi pertanian organik, sekaligus menekan biaya dari penggunaan obat kimia yang sebelumnya digunakan untuk pengenlian hama. Katanya, upaya ini sekaligus menjadi aksi nyata dari upaya untuk menghujudkan pertanian di Desa Munduk Temu yang memang organik, sehingga bisa memiiki keunggulan tersendiri.

“Saat ini alat tersebut sudah kami aplikasikan di areal kebun salak madu dan dihamparan kebun kopi Robusta, manggis, kelapa dan kakao. Alat ini dipasang di dua titik, dimana satu titik memiliki jangkauan hingga 25 meter,” ujarnya.

Di sisi lain akuinya, selama ini ancaman hama semisal pada kopi dan salak madu ini aalah penggerek batang dan secara pengamatan kasat mata persentasenya kecil. Namun, setelah diapasang alat lampu perangkap hama, hasilnya ada ratusan hama yang terperangkap. Salahsatunya, berupa kumbang.

“Artinya berbanding terbalik dengan pengamatan saya, karena lampu perangkap hama yang menggunakan tenaga surya ini baru dipasang satu malam sudah menangkap ratusan hama,” tandasnya.

Sementara itu, saat ini selain desa Munduk Temu, pemasangan alat lampu perangkap hama ini juga diadopsi oleh P4S Somia Pertiwi di Desa Wangayabetan. Selain itu, diadopsi oleh P4S Sri Rahayu di Kukuh Marga. (man)