Denpasar (Bisnis Bali) – Pemkot Denpasar terus berupaya memaksimalkan program smart city yang kini digaungkan pemerintah pusat. Hal ini diwujudkan degan pelaksanaan bimtek dan pendampingan penyusunan masterplan dan quick program hingga tahap ke-IV.  Dari pelaksanaan kegiatan ini dapat menjadikan penerapan smart city Kota Denpasar tepat sasaran.

Seluruh rangkaian bimtek dan pendampingan ini secara resmi ditutup Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra di Gedung Tirta Utama, Kantor PDAM Kota Denpasar, baru-baru ini. Turut hadir Executive Staf Kepresidenan Deputi 1, Robertus Theodore, selaku pendamping untuk memonitoring implementasi Smart City di Kota Denpasar, pimpinan OPD di Kota Denpasar serta instansi terkait lainnya.

Ketua Panitia yang juga Kadis Kominfo Kota Denpasar, I Dewa Made Agung mengatakan, pelaksanaan kegiatan ini bertujuan menyusun masterplan smart city yang komprehensif dan aplikatif. Kegiatan ini terbagi dalam empat tahapan. Yang menjadi quick win dari masterplan smart city Kota Denpasar yakni Smart Heritage Market, Smart river Walk, dan Story Talling Kota Denpasar.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya penyusunan masterplan smart city dan quick win Kota Denpasar hingga saat ini,” jelasnya.

Robertus Theodore, menilai, secara umum Kota Denpasar dengan beragam ciri khasnya sangat mendukung penerapan smart city yang kini telah menjadi gerakan nasional. Ada beberapa sektor smart city seperti halnya samart heritage dan smart river walk ini menjadikan Kota Denpasar yang paling unik dari kota lainya.

“Ini sangat baik untuk diterapakan, dimana program smart city merupakan kebutuhan jaman yang tidak bisa kita hindari, namun di Kota Denpasar penerapanya dapat beriringan dengan saling melengkapi tanpa menghilangkan seni, budaya serta kearifan lokal yang sudah ada, saya kira daerah lain sangat sulit meniru Kota Denpasar terkait keunikan penerapan smart city ini,” paparnya.

Sementara Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra menjelaskan, dalam tiap dimensi zaman semua pihak akan dihadapkan dengan permasalahan yang berbeda. Pihaknya menilai penerapan smart city tak akan maksimal jika dukungan dari sektor terbawah belum mumpuni.

“Di Kota Denpasar yang dibangun lebih dahulu adalah sektor terbawah mulai dari desa/lurah, sehingga nantinya seluruh instansi dari tingkat terbawah hingga yang tertinggi terkoneksi dengan apik dalam satu wadah smart city,” jelasnya.

Smart city di Kota Denpasar ini bukanlah produk baru. Melainkan pengembangan dari beberapa inovasi yang telah ada sebelumnya. Seperti smart goverment serta pelayanan lainya yang tentunya bertujuan untuk memberi kemudahan layanan bagi masyarakat.

“Denagan adanya bimtek ini diharapkan seluruh elemen mampu menjadi user yang baik hingga lini terbawah seperti halnya desa/lurah yang kini secara merata telah terkoneksi dengan smart city agar terus dimakimalkan, sehingga penerapan di sektor teratas dapat berjalan maksimal,” ungkapnya. (sta)