Usaha Spa Bali mesti Optimalkan Potensi Daerah

Denpasar (Bisnis Bali) – Pariwisata Bali yang kian berkembang memberi imbas positif terhadap usaha spa di Bali. Hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi pebisnis spa Bali meningkatkan daya saing, karena mereka juga menghadapi para kompetitor dari luar.

Owner Angel Spa, Putu Pastika Adnyana,S.H., Selasa (23/10) mengungkapkan, peluang usaha spa kini kian terbuka. Hal tersebut bukan saja disebabkan berkembangnya pola hidup sehat masyarakat dengan memilih media spa, bisnis ini makin berkembang juga dipengaruhi luberan tamu-tamu domestik dan mancanegara ke Bali.

Menyikapi ini, pebisnis spa Bali harus mempersiapkan diri dengan sebaik – baiknya. Kesiapan yang dimaksud antara lain dari sisi penyediaan sumber daya manusia (SDM) yakni para terapis yang kompeten, penyiapan infrastruktur spa yang memadai, termasuk peralatan dan sinergi yang baik dengan para penyedia produk spa atau aromatherapy  Bali. Semua ini berorientasi mengangkat potensi lokal dan memperkuat perekonomian daerah.

“Kalau sedikit-sedikit dalam usaha spa harus mendatangkan produk spa atau tenaga terapis dari luar, tentu takkan efisien. Sebab fenomena yang ada saat ini di Bali begitu berlimpah produk spa juga banyak sekali angkatan kerja spa yang berkualifikasi profesional dan kompeten,” ujar salah satu calon legislatif Provinsi Bali  dari Partai Hanura ini.

Dia juga mengatakan, bisnis spa adalah bisnis yang bergengsi karena pada dasarnya spa memberi manfaat besar bagi kehidupan manusia. Manusia zaman sekarang yang mudah penat dengan berbagai aktivitas rutin setiap hari tak dapat dihindari dari rasa mumet, stres, dan pada akhirnya bisa jatuh sakit.

Tersedianya layanan spa yang bermutu pun tarif terjangkau, menjadi solusi bagi semua orang untuk bisa menjaga kesehatan lewat terapi air. Spa merupakan terapi air memanfaatkan aromatherapy dan metode massage tertentu untuk melancarkan peredaran darah. Dengan lancarnya peredaran darah dan sirkulasi oksigen ke otak yang maksimal, maka segala penyakit kronis dapat dicegah.

Menyinggung indikasi adanya praktik spa yang menyimpang dengan menyediakan layanan prustitusi terselubung, menurutnya itu bagian dari dinamika persaingan yang tak terelakkan terjadi. Namun demikian dia punya keyakinan betapa pun itu jadi daya tarik para pengunjung ( hidung belang), namun takkan bisa bertahan lama karena melanggar hukum. Apalagi pemerintah lewat instansi terkait rutin melakukan sidak dan penertiban.

Informasi dari masyarakat tentu akan ditindaklanjuti dengan proses hukum yang berlaku. Hubungannya dengan bisnis spa yang legal tentu jika praktik spa esek – esek itu dapat mencoreng citra positif bisnis spa yang sesungguhnya. Edukasi dan promosi tentang layanan spa tiada lain adalah layanan terapi air harus ditegakkan dan diperluas  sehingga masyarakat jadi memahami tentang hal tersebut.

Sebelumnya,  Direktur Bali Citra Internasional ( BCI), Ni Made Rai Anggraeni, menyampaikan, sasaran pendidikan dan pelatihan spa bagi anak didiknya di BCI adalah mencetak terapis profesional, kompeten, dan teruji. Ini untuk menjawab tantangan persaingan ke depan seiring kian terbukanya bisnis spa.

Dia menyebut ribuan tenaga terapis Bali bahkan diminati sejumlah industri spa di luar negeri. Ini salah satu bukti kalau terapis Bali memiliki daya saing selain memang terkenal memegang teguh budaya ketimuran. Namun fenomena yang berkembang tak semua terapis Bali tertarik jadi tenaga kerja Indonesia ( TKI) di negeri asing.

Dia bersyukur munculnya usaha spa Bali banyak yang dikelola sendiri para terapis Bali. Sebagian lagi ada yang bekerja juga di usaha – usaha spa besar di daerah sendiri. Ini akan menguatkan daya saing usaha spa Bali khususnya  ke depan sehingga mereka – mereka yang bergelut di bisnis ini makin mampu menunjukkan andil positif bagi peningkatan ekonomi Bali. (gun)