Hektaran Padi dan Jagung Kekeringan di Karangasem

Amlapura (Bisnis Bali) – Hektaran tanaman padi, jagung dan kacang tanah yang baru satu bulan usai tanam, mengalami kekeringan di sejumlah wilayah di Karangasem. Penyebabnya, debit air mengecil pada musim kemarau ini, dan petani terancam gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karangasem Ir. I Wayan Supandi diampingi Kasi Produksi Tanaman Pangan, Pande Gede Arya Saputra, Selasa (23/10) kemarin di Karangasem membenarkan hal itu. Menurut Arya Saputra, di Desa Antiga Kecamatan Manggis, kekeringan yang dilaporkan pihak Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian setempat yakni tanaman padi di subak Tempek Sekeha Gede, serta Tempek Leba seluas tiga hektar.

Di areal itu petani antara lain bertanam padi varietas cigelis yang usia padinya 40 HST. Sementara di Desa itu, tanaman padi kekeringan pada subak tempek Paya dan Tempek Batu Kauh seluas 7,56 hektar dengan tanaman padi varietas Ciiherang usia 29 sampai 60 HST.

Di subak Mascatu sawah kekeringan seluas  4,25 hektar dengan padi usia 35 sampai 65 HST, juga padi jenis Ciherang. Ada juga tanaman padi kekeringan usia sudah 60 sampai 65 hari setelah tanam (HST), dengan areal pertanaman cukup luas. Sementara kacang tanah beberapa hektar di  di wilayah itu yang baru 50 sampai 60 HST.

‘’Terkait kekeringan di areal subak di Desa Antiga, Manggis itu, petani menunggu giliran air irigasi dua sampai tiga hari. Sudah ada upaya meminjam pompa air, subak pihak subak setempat juga tak memiliki biaya operasional. Di samping itu, debit sumber air yang selama ini dijadikan sumber irigasi juga memang mengecil karena musim kemarau,’’ papar Supandi.

Kekeringan juga terjadi di subak  Desa Pertima, di antaranya di Subak Uma Kaleran Desa Pakraman Asak. Supandi mengatakan, informasi dari Kepala UPTD Pertanian Manggis, terkait krisis air irigasi di sawah Desa Antiga itu, pihak petani hendak mengalirkan air irigasi dengan pompa air, meski kendalanya tak ada anggaran di UPTD. Petani juga serba terbatas anggaran.

Namun kendalanya juga, ternyata debit sumber mata air irigasi juga kecil, akibat musim kemarau. ‘’Kalau kendalanya seperti itu ya sulit. Tinggal ke depan dengan beberapakali pengalaman, petani hendaknya mengatur pola tanam, dengan melihat kednala datangnya musim kemarau dan hujan dengan sumber irigasi yang cukup paparnya.

Selain di Kecamatan Manggis, kata Supandi yang mantan Asisten III Sekda Karangasem itu, kekeringan lahan sawah juga dilaporkan dari UPTD Kecamatan Karangasem. Krisis air irigasi menimpa  petani di Subak penaban dengan status waspada kekeringan pada areal pertanaman jagung seluas 13 hektar. Sementara di Subak Candrabuwana Desa Bukit pada luasan tanam 20 hektar.

Di Subak Uma Kaang Desa Bugbugatau di subak Lumpadang juga kerap krisis air irigasi, karena pengecilnya debit sumber mata air pada musim kemarau. Sebab, petani di Desa Bugbug, Karangasem juga menunggu giliran mendapatkan air dari wilayah subak lebih di hulu, yakni dari Desa Bungaya, Bebandem atau Sibetan.

‘’Petani di subak Lumpadang seharusnya September lalu target musim tanamnya, tetapi September itu batal karena ternyata debit airi irigasi kecil dan mesti menunggu giliran mendapatkan air irigasi. ’begitulah kendala petani sawah di Karangasem. Kalau tak terserang hama dan penyakit, pada musim kemarau krisis air irigasi. Kalau sampai pada saat tanaman harusnya mendapatkan irigasi, tetapi tak ada air atau krisis air, produksi menurun, dari produksi rata-rata saat cuaca normal yang mencapai 6,2 ton per hektar,’’ papar Supandi.

Menurutnya, selain petani mesti jeli bersama pengurus subak mengatur pola tanam, dengan memperkirakan cuaca dan ketersediaan air irigasi, juga perlu petani masuk asuransi pertanian. Tujuan mengatur pola tanam dengan melihat musim dan ketersediaan air irigasi, agar pada saat kemarau panjang, tidak mengalami kekeringan dan menyebabkan kerugian yang besar. Bisa juga ikut asuransi pertanian.

Cuma di Karangasem, respon petani untuk mengasuransikan pertaniannya masih rendah. Penyebabnya, dari pihak asuransi juga klaim pembayarannya juga baru mau dibayar jika kerusakan mencapai 75 persen atau lebih. ‘’Kalau kerusakan 75 persen, itu aritnya sudah fuso atau gagal total, itulah salah satu sebab respon petani masih kurang,’’ tandasnya.  (bud)