Subak Kian Lemah Hadapi Kompetisi Kebutuhan Air

Tabanan (Bisnis Bali) – Pengelolaan usaha tani di lahan sawah tak dapat dilepaskan dengan ketersediaan air irigasi. Kebutuhan terhadap air terus meningkat karena pertumbuhan jumlah penduduk dan peningkatan kegiatan manusia seperti pertanian dan industri termasuk rumah tangga, sehingga kompetisi untuk mendapatkan pasokan air ini menjadi makin sengit, terlebih jika musim kemarau tiba.

Menurut pengamat pertanian yang juga Dekan Fakultas Pertanian Dwijendra, Gede Sedana mengungkapkan, di tengah kompetisi kebutuhan air keberadaan membuat subak di sektor pertanian di Bali makin tak berdaya. Itu terjadi karena sesuai aturan yang berlaku, produksi air diutamakan untuk kebutuhan konsumsi atau air bersih. Akibatnya kebutuhan air untuk pertanian dinomorduakan dan itu membuat sejumlah sentra produksi padi mengalami tunda tanam, bahkan ada yang sudah mengalami gagal tanam pada musim kemarau sekarang ini.

“Terlepas dari ketidak berdayaan tersebut, ada upaya lain yang masih bisa dilakukan dalam rangka tindakan nyata untuk menangkap, memelihara dan efisiensi penggunaan air sekarang ini,” tuturnya.

Pada kasus yang terjadi adalah tanah tak dapat menampung air karena rendahnya tingkat penyerapan air akibat alih fungsi hutan. Semisal untuk budi daya pertanian dan pembangunan-pembangunan fisik lainnya. Akibatnya ketersediaan air menjadi sangat terbatas, sementara pengguna air semakin bertambah.

Jelas Ketua HKTI Buleleng, secara teori pengelolaan sumber daya air, misalnya konservasi sumber daya air merupakan usaha untuk menjaga dan memelihara keberadaan, sifat dan fungsi, serta keberlanjutan sumber-sumber air agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup dengan kualitas dan kuantitas yang layak dan cukup pada masa saat ini dan masa yang akan datang. Konservasi sumber daya air ini harus dilakukan secara terintegrasi antara di kawasan hulu sampai ke kawasan hilir.

Selain peraturan dari pemerintah mengenai pengelolaan sumber daya air dan konservasi di kawasan hulu, terdapat beberapa upaya teknis yang dapat dilakukan untuk menangkap air baik di tingkat sumber maupun dari hujan melalui kegiatan konservasi pada Daerah Aliran Sungai (DAS) dan daerah hulu dengan menanam pohon-pohon penyimpan air. Seperti, pohon mahoni, trembesi, bambu dan lain sebagainya.

“Penanaman pohon ini sangat memerlukan adanya keterlibatan warga masyarakat, baik yang di hulu maupun hilir guna menjamin tingginya tingkat tumbuh dan terpeliharanya pohon-pohon tersebut,” ujarnya.

Penangkapan air juga dapat dilakukan dengan membuat konstruksi bangunan dam untuk menampung dan mengendalikan air. Pemanfaatan lahan-lahan di kawasan hulu perlu dikontrol secara ketat guna mencegah adanya eksploitasi lahan, kegiatan bertani di lahan yang memiliki tingkat kemiringan yang melebihi 40 persen. Sebab itu, perlu dilakukan pembuatan terasering pada lahan di daerah lereng pegunungan.

“Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menangkap air adalah melalui pembuatan sumur resapan dan biopori pada setiap rumah tangga. Secara sederhana, penangkapan air ini dimaksudkan untuk menghindarkan terbuangnya air atau mengalirnya air ke muara (laut),” ujarnya.

Pemprov Bali diharapkan dapat melihat kondisi air di Bali dan selanjutnya menyusun pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dengan memperhatikan siklus hidrologi dan prediksinya di masa mendatang. Air di Bali diyakini bersumber dari empat danau di Bali, sehingga konservasi danau-danau tersebut adalah sangat vital untuk dilakukan.

Sementara itu, musim kemarau ini telah membuat 205 hektar tanaman padi di Kabupaten Tabanan sebagai daerah lumbung pangan terancam kering. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Tabanan, 205 hekta tanaman padi yang terancam kering ini terjadi di tiga kecamatan yaitu Selemadeg timur dengan luasan 25 hektar, Penebel 48 hektar dan Kerambitan 132 hektar.

Kepala Bidang Peningkatan Produksi dan Hortikultura Dinas Pertanian Tabanan, Wayan Suandra mengungkapkan, selain 205 hektar tanaman padi yang terancam kering karena kekurangan air, hingga September 2018 telah terdata  tanaman padi yang sudah masuk dalam kategori kering ringan. Kondisi ini terjadi di kecamatan Pupuan  mencpai 7 hektar, Selemadeg Timur 59 hektar, Selemadeg 5 hektar, Penebel 8 hektar dan Kerambitan 5 hektar, sehingga total yang mengalami kekeringan ringan mencapai 84 hektar. (man)