Mangupura (Bisnis Bali) – Selama ini tidak terbayangkan bila kulit ikan bisa diolah menjadi produk – produk siap pakai seperti sepatu, tas dan produk lainnya. Produk tersebut terlihat sangat mewah dan artistik.

Produk dari kulit ikan tersebut belum banyak yang memproduksi sehingga masih sangat potensial untuk dikembangkan. Exotic Fish Leather atau kerajinan dari kulit ikan tersebut menurut Nyoman Adi Arnaya pemilik Yeh Pasih Leather, dibuat menggunakan beberapa jenis kulit ikan.

“Semua jenis kulit ikan bisa diolah menjadi kerajinan, seperti kulit ikan baramundi, kakap putih, kakap merah, ikan mahi-mahi dan sejumlah ikan lain,” terangnya Minggu (21/10) di GWK saat mengikuti pameran yang dilaksanakan dalam Temu Karya Nasional.

Menurutnya, di Bali, pemanfaatan kulit ikan untuk bahan kerajinan tangan baru dilakukan olehnya. Sedangkan, di Indonesia baru ada sebanyak 3 pengerajin.  “Persaingan memang belum begitu ketat,  tapi pesaing kami dari luar negeri, yaitu kerajinan dari kulit ikan salmon,” ungkapnya.

Potensi kerajinan dari kulit ikan ini dikatakannya memang masih sangat potensial. Apalagi potensi perikanan di Indonesia juga sangat luar biasa. “Dulu produk kulit ikan yang paling primadona adalah kulit ikan pari. Tapi saat ini populasi ikan pari sudah mulai menurun, makanya kami memilih untuk mengolah jenis ikan lain,” tukasnya.

Pihaknya memiliki target kedepannya, yaitu Indonesia bisa menjadi produsen kulit terkemuka dunia terutama kulit ikan. Karena Indonesia memiliki potensi ikan nomor 5 terbesar di dunia,  garis pantai  yang terpanjang kedua di dunia. Serta dilalui garis katulistiwa yang merupakan surga bagi ikan. Dengan demikian keberadaan ikan di Indoneaia sangat melimpah.

Untuk bahan baku, dia mengaku sangat mudah didapat. Biasanya dirinya mendapat bahan baku di industri filet ikan di pelabuhan Benoa. Selama ini, di sentra filet ikan, dari satu ekor ikan baru 40 persen bermanfaat untuk daging filet. Sisanya itu sampah sebagian bisa untuk digunakan sebagai pupuk dan sisanya belum terpakai. Disinilah peluang itu muncul. Kulit fresh yang baru diambil belum bisa langsung diolah, namun harus digarami dulu. “Dari penyiapan bahan baku melalui proses penggaraman memakan waktu hingga 7 hari,” katanya

Untuk proses pengolahan, berawal dari kulit ikan hasil filet, melalui proses penyamakan, dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Bahan pewarna yang dipakai sebagian besar dari pewarna alami, namun tidak semua warna bisa terpenuhi. “Jadi warna yang tidak bisa dipenuhi dari warna alami, bisa menggunakan warna sintetis yang aman digunakan,” kata Adi Arnaya yang membuka workshop dan kantor di Perum. Bayusuta, Singaraja.

Untuk produksi kulit ikan ini, setiap jenis kulit ikan memerlukan waktu berbeda-beda. Namun secara rata-rata memakan waktu 12 hari.  Dari bahan baku hingga menjadi kulit semi produk memakan waktu 12 hari. Saat ini menurutnya, di tempat kerjanya, produksi baru sampai pada kulit semi produk. Sedangkan untuk diolah menjadi produk jadi, masih menyiapkan SDM. “Kulit ikan ini tergolong kulit exotic dan pasarnya high end yang pengerjaanya betul betul harus rapi,” terangnya.

Produk olahan kulit ini termasuk komoditi yang sangat diminati kalangan menengah ke atas. Untuk peluang pasar, sebetulnya kebutuhan dunia baru terisi 30 persen untuk semua jenis kulit. Sedangkan untuk di Indonesia masih  20 persen. Di Indonesia baru ada 16 ribu pengerajin kulit yang sebagian bahan semi jadi didapat dari Impor seperti kulit kambing, sapi dan sebagainya. “Padahal potensi kulit ikan di Indonesia sangat besar. Kita tidak perlu mengimpor, bahan baku sangat berlimpah,” pungkasnya. (pur)