PASAR CINA - Sikapi paket murah pasar Cina, Wakil Gubernur Bali bersama GIPI Bali melakukan kunjungan ke toko oleh-oleh yang ada di sepanjang By Pass Nusa Dua sampai Tohpati.

Denpasar (Bisnis Bali) – Kedatangan wisatawan Cina atau Tiongkok ke Bali masih didominasi kelas bawah dengan paket wisata murah. Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali IB. Agung Partha Adnyana Jumat (19/10) mengatakan, dengan paket wisata murah ini menyebabkan pengeluaran wisatawan Tiongkok yang berlibur ke Bali masih sangat rendah.

Jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali memang sangat tinggi mengungguli pasar yang lain. Tak heran, pasar Tiongkok dinilai unggul dari kuantitas.  Rata-rata pengeluaran wisatawan Tiongkok di Bali sebesar Rp9,6 juta. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata pengeluaran wisatawan Australia, Eropa, dan Jepang.

Rendahnya rata-rata pengeluaran ini, menyebabkan penerimaan devisa dari sektor pariwisata tak bisa optimal. Pengeluaran wisman Tiongkok di Indonesia secara rata-rata sebesar 965 dolar. Ini dengan rata rata tinggal 4 malam 5 hari.

Pengeluaran wisatawan Tiongkok di Bali lebih rendah dibanding pengeluaran wisman Tiongkok di Thailand yang mencapai 2.026 dolar pada 2017. Sementara itu, pengeluaran wisman Tiongkok di Indonesia juga masih lebih rendah dibanding rata-rata pengeluaran wisman di Indonesia sebesar 1.170 dolar.

Rendahnya pengeluaran wisman Tiongkok ini menyebabkan adanya lost opportunity sekitar 205 dolar per wisman. Jika potensi tersebut dikalikan total wisman Tiongkok yang datang ke Indonesia, sepanjang periode 2014-2017, maka total lost opportunity akan mencapai 260 juta dolar.

Agung Partha Adnyana menambahkan salah satu penyebab tidak optimalnya penerimaan devisa negara, dari kedatangan wisatawan Tiongkok adalah adanya praktik pemasaran zero dolar tour. Ini ditawarkan oleh agen perjalanan wisata dengan kemasan paket wisata murah. (kup)