Denpasar (Bisnis Bali) – Pergerakan nilai tukar rupiah yang masih rentan terdepresiasi dari dolar AS hingga akhir tahun nanti, dinilai menjadi sandungan bagi perbankan dalam pencapaian target tahunan. Kondisi tersebut sejalan dengan kondisi tingkat bunga, khususnya di sektor kredit yang cendrung tinggi.

Pengamat perbankan, IB. Kade Perdana, di Denpasar, Jumat (19/10) mengungkapkan, di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah yang masih membayangi hingga kini dan kemungkinan masih terjadi pada tutup tahun nanti menjadi sadungan terberat untuk kalangan perbankan dalam mencapai target bisnis. Sebab, dengan suku bunga kredit yang tinggi ditambah juga selektifitas kredit dengan cendrung menyasar kredit katagori aman atau low risk guna menghindari lonjakan NPL, itu tentu mempengaruhi pencapaian terget nantinya.

“Posisi perbankan tersebut makin berat, karena dihadapkan pada calon debitur yang masih wait and sea atau berpikir dua kali untuk terjun maupun mengembangkan usaha di tengah ekonomi lesu saat ini,” tuturnya.

Kondisi pencapaian target di sisi kredit yang sulit ini, berbanding terbalik dengan kemampuan perbankan dalam perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK). Katanya, untuk DPK kemungkinan bisa dicapai, mengingat suku bunga yang tinggi dan kondisi ekonomi yang melesu akan dipandang oleh sejumlah nasabah sebagai sesuatu pilihan menarik atau aman, sehingga mereka akan memilih melakukan investasi dalam bentuk tabungan maupun deposito.

Bercermin dari kondisi itu, menurutnya di tengah kondisi yang sulit sebagai imbas dari pelemahan rupiah, khususnya di kalangan perbankan diperlukan pinpinan yang memiliki trobosan baru. Katanya, dibutuhkan pimpinan yang inovatif atau out of the box mencari upaya untuk menemukn instrumen yang efektif untuk menjaga kinerja perbankan.

“Sebab, posisi akhir tahun yang kemungkinan masih dihantui oleh imbas pelemahan rupiah ini akan menjadi beban yang berat untuk mendorong kinerja perbankan pada 2019 nanti,” tandasnya. (man)