Denpasar (Bisnis Bali) – Hingga akhir tahun, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi terus bergerak fluktuatif. Menurut pengamat perbankan IB. Kade Perdana, itu sejalan dengan normalisasi suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve (the Fed) yang masih akan berlangsung sampai Desember tahun ini.

“Meski begitu, hingga Desember 2018 nanti pergerakan rupiah ini kemungkinan tak akan jauh bergerak dari kisaran Rp14 ribu-Rp15 ribuan atau yang terjadi seperti saat ini,” tutur Kade Perdana, di Denpasar, Kamis (18/10).

Prediksi tersebut didasari pada tingginya kepercayaan dunia akan Indonesia, itu khususnya didapat setelah dinilai sukses menjadi tuan rumah pada perhalatan akbar ASEAN Games dan pertemuan IMF-WB yang diadakan di Bali belum lama ini. Kepercayaan dunia internasional secara tak langsung akan berdampak pada potensi masuknya sejumlah investasi asing ke Indonesia, bahkan pada ajang IMF-WB sudah ada sejumlah investor yang tertarik untuk berinvestasi.

Bercermin dari itu, jelas Wakil Ketua Kadin Bali Bidang Financial dan Moneter ini, masih ada sisa dua bulan hingga akhir tahun nanti, ada kemungkinan pergerakan rupiah tak akan melebar dari yang terjadi seperti sekarang ini. Prediksinya, pada 2019 nanti ada kemungkinan nilai tukar rupiah akan menguat, itu didasari pada sejumlah investor yang sebelumnya sudah melakukan penjajakan investasi, mulai merialisasikan rencana mereka pada 2019.

Selain itu, faktor penguatan rupiah juga didukung dengan adanya bantuan dari luar negeri dalam bentuk dolar AS yang membuat  kebutuhan akan likuiditas mata uang negara adidaya tersebut makin berkurang. Dan itu akan sangat baik bagi arah nilai mata uang garuda untuk kembali bangkit. Apa lagi jika nantinya dibarengi dengan upaya pemerintah mengurangi kandungan impor terhadap bahan baku usaha dan menggenjot produksi di dalam negeri, itu akan juga menjadi nilai tambah bagi penguatan rupiah nantinya.

Sementara itu pengamat ekonomi sekaligus pelaku usaha, Gede Wicaksana mengungkapkan,  pelemahan nilai tukar saat ini berbeda dengan kondisi pada 1998. Sebab, pelemahan yang terjadi saat ini juga terjadi di negara lain, dan kecil kmungkinan adanya pemain atau spekulan yang mencari untung memanfaatkan dari gejolak rupiah sekarang ini.

“Sebab itu, fluktuasi rupiah ini tidak akan terpuruk pada level yang dalam hingga penghujung tahun nanti. Nilai tukar rupiah akan menguat dan tetap terjaga,” tandasnya. (man)