Siswa SMA N Bali Mandara Ciptakan SATPAM

Singaraja (Bisnis Bali) – Bencana erupsi Gunung Agung di Karangasem setahun lalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi I Gede Yogi Pratama dan I Gede Feri Sandrawan. Siswa SMA N Bali Mandara tersebut prihatin terhadap masyarakat yang terdampak bencana erupsi. Kekhawatiran keduanya memunculkan ide membuat alat yang mereka namai SATPAM (Smart Automatic Poison Vulcano Alarm) yang memiliki fungsi mendeteksi gas beracun yang dikeluarkan dari erupsi Gunung Agung.

Menurut Feri Sandrawan, SATPAM bekerja dengan empat sensor yaitu sensor gas Co2, sensor gas CO, SO2 dan sensor NOx. Dalam peristiwa gunung meletus, gas SO2 atau Sulfur Dioksida merupakan gas yang sangat membahayakan bagi mahkluk hidup. So2 merupakan gas yang tak memiliki warna dengan aroma yang sangat khas dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Dampak yang ditimbulkan dari gas tersebut dapat merusak jaringan kulit, mata dan mengganggu pernafasan.

Dengan keempat sensor tersebut, gas-gas beracun akan dideteksi sehingga masyarakat tahu jarak aman dari pusat erupsi. Sebelumnya pihak PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) telah memiliki alat berupa alarm yang akan berbunyi ketika gas-gas beracun tersebut melebihi kapasitas aman bagi mahkluk hidup.

Tetapi,  alarm tersebut belum dapat bekerja maksimal karena tidak dapat menjangkau daerah yang jauh. Tak semua masyarakat dapat mendengar alarm jika dalam keadaan darurat sehingga besar kemungkinan masyarakat akan tetap berada di wilayah zona berbahaya.

Sementara itu Yogi Pratama mengatakan, cara kerja dari alat SATPAM ini berbasis teknologi. Alat tersebut menggunakan sistem micro controller dan mode GSM sehingga ketika gas memenuhi kapasitas akan mengirimkan pesan melalui SMS kepada pihak PVMBG. Mode GSM inilah yang akan berkerja seperti HP sehingga akan mengirimkan tanda berupa SMS kepada pihak PVMBG.

Meskipun telah diujicobakan, alat tersebut masih memerlukan penyempurnaan. Bekerja seperti HP membuat alat yang ditempatkan di tempat yang tinggi ini juga memerlukan sinyal. Hingga saat ini pihaknya masih terkendala sulitnya sinyal untuk mengirimkan pesan.

“Prinsip kerjanya seperti HP sehingga sinyal menjadi modal utama agar alat ini dapat berfungsi maksimal,”terangnya.

Dengan penelitian tersebut, keduanya pun lolos dalam Olimpiade Penelitian Seluruh Indonesia tahun 2018 dari 1679 peserta. Keduanya akan mempresentasikan proposalnya  pada OPSI SMA tingkat Nasional yang diselenggarakan pada 15 sampai dengan  20 Oktober 2018 di Semarang, Provinsi Jawa Tengah. (ira)