Pasar Kain Tenun Bali Berpeluang, namun Krisis SDM

Semarapura (Bisnis Bali) – Di tengah menggeliatnya promosi dan penjualan kain tenun Bali, tak diimbangi dengan pertumbuhan sumber daya manusia (SDM). Hal ini berpengaruh terhadap sulitnya memenuhi kebutuhan saat peluang permintaan kain tenun terbuka.

Salah seorang pemilik usaha tenun, I Nyoman Sudira saat ditemui ditempat produksi produk tenunnya di Banjar Jerokapal, Desa Gelgel, Klungkung, Minggu (14/10) kemarin mengatakan permintaan terhadap kain tenun Bali cukup berpeluang saat ini.  Terlebih lagi setelah adanya penerapan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang hari Penggunaan Busana Adat Bali, tentu memberikan kesempatan untuk meningkatkan penjualan kain tenun.

Meski belum terlihat dampaknya lantaran baru saja diterapkan, tetapi peraturan ini sudah dilihat sebagai peluang untuk meningkatkan penjualan kain tenun, baik endek maupun yang lainnya.

“Itu hal positif bagi pengusaha tenun di Bali, meski saat ini belum terlihat karena penerapannya baru. Tetapi sudah ada pihak daerah (Pemeratah Kabupaten) sudah ada yang menghubungi berkaitan dengan ketersediaan kain kami. Karena mereka ingin agar serempak,” ujarnya.

Hanya saja ia mengaku kesulitan mencari SDM saat ini. Saat ini orang-orang bekerja untuknya sebagai penenun, hampir seluruhnya berusia lanjut. Pekerjaan sebagai penenun hanya digunakan sebagai pekerjaan sampingan setelah menyelesaikan urusan rumah tangga dan kegiatan adat.

“Pekerja saya sebanyak 28 orang. Jadi mereka mengurus urusan rumah tangga terlebih dahulu, baru mereka bekerja. Biasanya pukul 11.00 baru mulai bekerja. Bahkan kalau ada hari raya besar, mereka tak bekerja dan libur cukup lama. Sehingga kadang membuat saya kesulitan memenuhi permintaan,” tuturnya.

Sementara untuk regenerasi, pihaknya mengaku sangat pesimis. Saat ini kebanyakan anak muda lebih tertarik bekerja di swalayan, konter handphone, hotel, restoran dan lainnya. Sempat oleh pemerintah digelar pelatihan membuat kain tenun bagi anak-anak muda agar mereka tertarik menekuni bidang ini. Sayang, setelah pelatihan selesai, semua menghilang dan tidak ada yang menekuni pembuatan kain tenun ini.

Atas kondisi itu, pihaknya mengaku sering kesulitan memenuhi pasar. Terutama bagi pemesan dengan jumlah besar namun dengan waktu yang singkat. Apalagi menurutnya, rata-rata konsumennya adalah orang yang cukup fanatik terhadap produk kain tenun.

“Bahkan mereka sering ke sini untuk memastikan kain tenun pesanannya itu benar-benar dikerjakan oleh kami. Mereka tidak mau diambilkan dari tempat lain. Selain itu kain yang diinginkan harus 100 persen katun. Jadi memang cukup fanatik,” imbuhnya. (wid)