Denpasar (Bisnis Bali) – Perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Department for International Development (DFID) Pemerintah Inggris bertemu perwakilan CSO dan local champions untuk berbagi pengalaman di Taman Hutan Raya (Tahura) jalan Ngurah Rai Denpasar, Minggu (14/10).

Sejumlah perwakilan organisasi masyarakat sipil dan komunitas dari Aceh, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, Papua, dan Jakarta hadir dan menceritakan pengalaman mereka di daerah masing-masing.

“Selain bernilai ekonomis, hutan juga memiliki nilai sosial dan budaya, serta merupakan bagian yang tak terpisahkan bagi eksistensi kehidupan perempuan. Sebagai bentuk komitmen, KLHK telah lama membentuk pokja PUG yang bertugas untuk memastikan pendekatan keadilan gender berjalan dengan baik di KLHK misalnya melalui pelatihan-pelatihan bagi staff KLHK, juga memberikan input kepada Menteri dan Dirjen-Dirjen di KLHK dalam membuat peraturan yang responsive gender. Saat ini di KLHK, ada dua Permen dan 14 Perdirjen di lingkungan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) mayoritas terkait akses perhutanan sosial dan penyelesaian konflik di hutan adat,” ujar Kepala Biro Perencanaan KLHK sekaligus ketua Pokja Pengarusutamaan (PUG) gender di KLHK, Ayu Dewi Utari.

KLHK menyambut baik inisiatif CSO, masyarakat, dan pemerintah Inggris melalui The Asia Foundation (TAF) dalam program Selamatkan Hutan dan Lahan Melalui Perbaikan Tata Kelola (SETAPAK). Program ini difasilitasi United Kingdom for Climate Change Unit (UKCCU) sejak 2011 sebagai bentuk komitmen Pemerintah Inggris dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan ramah lingkungan di Indonesia.

Sementara itu, Deputi direktur program SETAPAK Alam Surya Putra menyatakan, TAF melakukan berbagai kajian untuk memetakan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi oleh konteks sosial, politik, agama, dan budaya di tingkat lokal.

“Kemudian, TAF memfasilitasi mitra untuk menyusun strategi dan implementasi program yang responsif gender menggunakan Gender Pathway Analysisuntuk menganalisis dan mengintegrasikan isu gender dalam program dan kegiatan tiap lembaga, serta memastikan pelibatan kelompok perempuan dalam advokasi TKHL agar dapat menjawab kebutuhan perempuan,” paparnya.

Selain itu, TAF juga menggagas forum pertemuan tahunan bagi para local champion untuk berbagi cerita dan pengalaman terkait TKHL di tingkat tapak dengan pengambil kebijakan. Local champion adalah penamaan yang diberikan TAF kepada anggota komunitas yang memiliki komitmen dan kemauan kuat untuk berjuang agar hutan dan lahan yang rusak di kampung mereka segera dipulihkan dengan kebijakan reformis.

Melalui forum dialog antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Inggris, organisasi masyarakat sipil, dan para pejuang lingkungan, diharapkan akan tercipta ruang bersinergi dan pemahaman yang kuat untuk menghadapi tantangan serta permasalahan dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan dalam pengelolaan SDA yang berkelanjutan. Beberapa keberhasilan program dalam menginternalisasi GRA dan menghasilkan banyak local champion. (pur)