Inilah Tiga Daerah Penyalur Kredit Tertinggi di Bali

Denpasar (Bisnis Bali) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kredit perbankan di Bali hingga Juni 2018 mengalami pertumbuhan 4,44 persen dengan rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) 3,73 persen. Kendati NPL semester I lebih tinggi dibandingkan kondisi Desember 2017 mencapai 3,42 persen, penyaluran kredit di beberapa kabupaten ada peningkatan.

“Peningkatan penyaluran kredit terbesar ada di Kabupaten Buleleng mencapai 16,55 persen, Klungkung 10,68 persen dan Bangli 7,69 persen,” kata Kepala OJK Regional 8 Bali NTB dan NTT, Hizbullah di Renon, Senin (13/8).

Penyaluran kredit hingga Juni 2018 mencapai Rp83,9 triliun atau meningkat dari Desember 2017 menembus Rp 82,67 triliun. Penyaluran kredit terbesar di Bali yaitu penerima kredit bukan lapangan usaha mencapai 38,06 persen, perdagangan besar dan eceran 31,62 persen dan penyediaan akomodasi, makanan dan minuman yaitu 8,90 persen.

“Berdasarkan jenis penggunaan, penyaluran kredit sebagian besar pada sektor produktif 61,25 persen, kredit modal kerja 39,67 persen dan kredit investasi 21,58 persen,” terangnya.

Jika melihat tiga besar penyaluran kredit di Bali, masih tertinggi di Denpasar, Badung dan Buleleng. Denpasar disumbang dari penerima kredit bukan lapangan usaha mencapai 37,88 persen, perdagangan besar dan eceran 26,76 persen dan  penyediaan akomodasi, makan, dan minum 11,44 persen. Untuk Badung, penerima kredit bukan lapangan usaha 36,36 persen, perdagangan besar dan eceran 31,08 persen dan  penyediaan akomodasi, makan, dan minum 14,30 persen.

Sementara Buleleng disumbang dari penerima kredit bukan lapangan usaha mencapai 40,86 persen, perdagangan besar dan eceran 40,38 persen dan beda dengan kabupaten lainnya untuk pertanian, perburuan, dan kehutanan 7,17 persen.

Ini pula yang ikut mempengaruhi kondisi NPL. Penyumbang tiga besar sektor dengan NPL tertinggi yaitu pertambangan dan penggalian mencapai 10,72 persen, kegiatan usaha yang belum jelas batasannya 8,83 persen dan  jasa perorangan yang melayani rumah tangga 7,70 persen.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali memuat dari semua kinerja lapangan usaha pada semester I 2018, lapangan usaha perbankan mengalami kontraksi – 0,31 persen. (dik)