Gelombang Tinggi Pengaruhi Stok Lobster

Gianyar (Bisnis Bali) – Tingginya gelombang laut akhir-akhir ini berimbas pada nasib nelayan. Akibat fenomena ini nelayan memilih tak melaut hingga kondisi benar-benar normal. Peristiwa ini berimbas pada pengepul lobster yang krisi stok. Padahal biasanya awal agustus merupakan musim lobster.

Salah seorang pengepul lobster di desa ketewel Gianyar, Wayan Ruditia mengatakan, stok lobster sudah mulai menipis, karena sebagian besar nelayan tak berani melaut. “Sekarang stok lobster yang ada hanya 7 kilogram. Jumlah ini tentu sangat kurang dari keperluan lobster untuk beberapa restoran seafood di daerah Sanur dan Denpasar,” ungkapnya.

Akibat gelombang tinggi ini, nelayan sudah tak melaut dari pertengahan bulan juli, padahal apabila dalam kondisi normal awal agustus merupakan musim lobster. “Biasanya akhir Juli, nelayan yang melaut bisa mendapat 2 sampai 3 kilo lobster setiap harinya, jumlah ini akan terus meningkat di awal agustus. Namun kenyataannya cuaca tidak mendukung jadi ya hanya dapat sedikit saja,” tambah Wayan Ruditia.

Hal senada diungkapkan nelayan asal Sanur, Kadek Dana. “Padahal sudah masuk musim lobster, tapi saya tidak berani turun. anginnya kencang yang berimbas pada grlombang yang tinggi, saya ga berani ambil resiko,” ujarnya.

Dia berharap cuaca segera kembali normal. Namun paihaknya yakin dua hingga tiga hari ke depan ombak akan segera stabil. “Kalau cuaca normal kita akan kembali melaut dan memanfaatkan musim lobster ini untuk tambahan rejeki,” tambah Kadek Dana.

Biasanya harga lobster dari nelayan beragam tergantung dari beratnya. Jika di atas 200 gram harga sekitar Rp300 ribu perkilogramnya. Sementara lobster dengan berat 500 gram dibeli dengan kisaran jarga Rp400 ribu dampai Rp500 ribu perkilonya. (ita)