Pupuk Organik Tingkatkan Produksi Padi 1 Ton/Hektar

Denpasar (Bisnis Bali) – Penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang dilakukan terus-menerus membuat kesuburan tanah (produktivitas lahan) di Bali sangat rendah. Hal ini ditunjukkan dengan hasil produksi pertanian padi sekitar 4-6 ton/ha GKP. Bila ini dilakukan terus, kondisi tanah akan makin rusak, untuk mengembalikan kesuburan tanah maka petani harus menggunakan sistem organik.

“Usaha untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian secara berkelanjutan dengan pemberian bahan organik, selama ini menemui kendala yaitu membutuhkan takaran pupuk yang tinggi dan waktu lama yaitu 2-3 tahun. Ini menjadi kendala ketersediaan pupuk organik dalam jumlah besar untuk lahan luas dan biaya yang cukup tinggi,” papar Ir. I Gede Sutapa, M.P., dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa.

Persoalan tersebut membuat banyak petani enggan beralih ke sistem organik. “Dari hasil demplot pada tanaman padi di beberapa subak di Bali Batubulan, Kerobokan (Buleleng), Baha (Badung), Gelgel (Klungkung), Apuan (Bangli), Tembles (Jembrana), Sanur (Denpasar) dan Amerta Buana Selat (Karangasem) dengan menggunakan pupuk organik agrodyke dalam waktu 3 bulan mampu membuat tanah menjadi gembur. PH tanah menjadi netral dan produksi padi meningkat 0,5-1 ton/ha GKP,” terang Ketua Asosiasi Petani dan Produsen Pupuk Organik (AP3O) Bali tersebut.

Jadi persoalan rendahnya produktivitas lahan dapat diatasi secara efektif, efisien dan singkat dengan menggunakan pupuk organik agrodyke sebesar 2 kg per hektar. “Jika Pemerintah Provinsi Bali, kabupaten dan kota mensubsidi pupuk organik agrodyke dengan asumsi 2kg/ha bernilai Rp 200 ribu, yang setara dengan kompos 500 kg/ha bernilai Rp 450 ribu, pemerintah akan mendapatkan efisiensi subsidi 55,56%,” tandasnya. (pur)