Optimalkan Pasokan RSH Subsidi, PSU makin Vital

gunPSU - PSU diharapkan makin optimal sehingga pengembangan rumah subsidi lebih terserap optimal oleh MBR. 

Bantuan prasana, sarana, dan utilitas (PSU) dari pemerintah untuk kawasan rumah sehat sederhana (RSH) bersubsidi sangat diharapkan pengembang. Hal tersebut untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat -penghuni perumahan bersubsidi dalam aktivitas perekonomian, dan lainnya. Apa lagi? 

PENYEDIAAN PSU vital di kawasan rumah subsidi. Dengan peningkatan kualitas infrastruktur atau PSU di lingkungan perumahan bersubsidi bertujuan agar para penghuninya bisa nyaman dan meningkatkan perekonomian. Rumah subsidi yang notabene bisa dibangun di kawasan relatif  jauh dari perkotaan memang perlu dukungan infrastruktur agar para penghuninya bisa meningkatkan perekonomian. Bukan sebaliknya jadi terkendala akses ekonomi. Rumah subsidi dengan fasilitas khusus untuk membantu masyarakat kecil memiliki rumah yang layak dan nyaman. Dari sisi skema angsuran juga bersifat jangka panjang sehingga memberi keleluasaan bagi konsumen dalam menempuh kredit pemilikan rumah (KPR) fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dengan suku bunga 5 persen per tahun ini.

Tentu saja kepedulian pemerintah pusat dan daerah untuk bersinergi meningkatkan fasilitas ekonomi di kawasan rumah subsidi bertujuan meningkatkan kesejahteraan para penghuninya. Hal tersebut tak berlebihan karena jika fasilitas perekonomian di kawasan rumah subsidi terbatas tentu akan kesulitan bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk menjangkau tempat kerja, maupun mencoba berusaha di berbagai bidang perekonomian di tempat yang baru. Lebih-lebih jauh dari kota tentu akan menekan perekonomian para penghuni rumah subsidi. Dengan memadainya fasilitas jalan sebagai akses perekonomian selain sarana lainnya seperti adanya pasar, dan simpul-simpul ekonomi lainnya diharapkan makin meningkatkan motivasi mereka untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

Selama ini sebutnya membangun rumah subsidi diperlukan komitmen untuk berkorban dulu di kalangan pengembang agar mampu menyediakan rumah subsidi yang siap ditempati. Tidak diperbolehkan menerapkan sistem inden dengan mengumpulkan perskot dan uang muka/down payment (DP) konsumen dulu baru membangun. Bank pun takkan merespons untuk meng-ACC pinjaman pengembang jika menerapkan sistem inden. Saat ini konsumen sudah lebih diperhatikan Bank Indonesia atau pemerintah sebelum rumah klar maka tak perlu bayar dulu. Demikian dengan ketentuan khusus debitur rumah subsidi sesungguhnya memudahkan konsumen jika memang belum pernah punya rumah. Salah satu persyaratannya adalah tidak sedang menempuh KPR di bank lain. Syarat yang menonjol adalah rumah subsidi khusus bagi mereka yang belum pernah rumah. Retorikanya syarat KPR rumah subsidi dikatakan sulut dan berbelit karena konsumen berorientasi untuk spekulasi. Artinya mereka membeli rumah subsidi merupakan rumah kedua atau ketiga sehingga KPR mereka pasti ditolak bank. “Memang dalam konteks ini, pengembang harus berani berkorban dulu untuk memastikan rumah subsidi siap huni baru dijual kepada konsumen. Bukan menunggu dana konsumen baru membangun. Ini yang riskan menimbulkan komplin konsumen,” papar owner Citra Nirwana Regency (CNR) Tabanan, Bagio Utomo, baru-baru ini.  (gun)