Tak lagi Ter-’’cover’’ LUEP, Perpadi Tabanan Kendala Serap Gabah Petani

Sejumlah sentra pertanian di Tabanan akan panen (man)

Tabanan (Bisnis Bali) – Sejumlah usaha penggilingan padi yang tergabung dalam Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi (Perpadi) di Tabanan mengeluhkan mengalami kendala dalam pembelian hasil produksi petani pada musim panen belakangan ini. Keluhan tersebut terutama karena tak adanya lagi bantuan dana dari pemerintah Provinsi Bali melalui Lembaga Usaha Ekonomi Perdesaan (LUEP) pada tahun ini dan juga tuntutan pengembalian dana LUEP ke khas daerah melalui bank BPD Bali yang jatuh tempo Maret ini.

Ketua Perpadi Tabanan, I Ketut Sukarta, di Tabanan, Jumat (23/3) mengungkapkan,  permodalan menjadi kendala dalam menghadapi musim panen padi tahun ini. Sebab, LUEP yang sebelumnya menjadi harapan dalam membantu penyerapan produksi, tahun ini tidak lagi berlanjut, sehingga pihaknya hanya mengandalkan modal sendiri dan juga pemanfaatan kredit dari bank yang memiliki suku bunga cukup tinggi.

“Meski begitu, selama ini kami bersama anggota Perpadi lainnya berupaya maksimal untuk menyerap hasil produksi petani pada musim panen sekarang ini,” tuturnya.

Jelas Sukarta, selain maksimal dalam menyerap produksi,  harga gabah ditingkat petani juga masih diserap dengan harga tinggi, bahkan jauh di atas patokan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Katanya, sejak seminggu lalu harga gabah petani di Kabupaten Tabanan rata-rata terserap dengan kisaran Rp 4.800 per kg, sedangkan patokan HPP adalah Rp 3.700 per kg di tingkat petani. (man)