Kejar Kuota 4 Persen, Wirausaha Muda mesti Dipacu Kualitasnya

Denpasar (Bisnis Bali) – Menuju negara maju dan sejahtera salah satu indikator penentunya adalah jumlah wirausaha 4 persen dari jumlah penduduk di negara tersebut. Saat ini Indonesia terbilang masih rendah yakni 1,6 persen sehingga upaya bersama memacu wirausaha mendesak dilakukan.

Anggota Komisi XI DPR RI, Ibu  Tutik Kusuma Wardhani, S.E., M.M.Kes baru – baru ini pada seminar Peran Bank Indonesia (BI) dalam macu wirausaha di Kampus Wira Bakti , Denpasar menyampaikan, wirausaha muda penting  yakni mereka generasi muda yang kreatif. Hal itu bertujuan mendorong perekonomian dengan memacu pertumbuhan menuju kesejahteraan. Penduduk Indonesia 262 juta jiwa namun jumlah  wirausaha hanya 1,6 persen.

Sementara negara dikatakan maju dan sejahtera minimal jumlah wirausahanya mencapai 2 atau 4 persen. Berarti Indonesia masih kurang 10.500 juta wirausaha untuk bisa memenuhi kuota tersebut. Dibandingkan Korea Selatan (Korsel) usai perang dunia kedua negara ini tergolong miskin dibandingkan Indonesia pada 1980.

Indek Domestik Bruto Indonesia 86,3 sedangkan Korsel  64,4 persen. Korsel tak punya sumber daya manusia (SDM) yang tangguh sehingga 51 juta jiwa di negara tersebut takkan mampu mencapai kesejahteraan di negaranya. Namun 2014 Korsel  telah meninggalkan Indonesia. Hal tersebut karena pemerintah negara tersebut mampu menekan korupsi dan memacu pertumbuhan ekonomi hingga tujuh kali dari Indonesia. Kemudian Cina negeri yang sangat berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya. Hal tersebut semata karena Cina memiliki tingkat wirausaha yang tinggi. Sebutnya Indonesia punya Bank Indonesia yang bisa mendorong jumlah wirausaha Indonesia sehingga berbagai upaya sinergi dengan industri pendidikan tinggi, swasta, dan lainnya untuk memacu wirausaha muda diyakini mampu memacu pertumbuhan ekonomi. Indonesia perlu jutaan wirausaha baru sehingga peran BI amat diharapkan memacu wirausaha dengan program- program yang ada. Di era global tantangan mengejar kekurangan kuota Indonesia untuk menjadi negara sejahtera harus dihadapi. Saat ini ketersediaan tenaga kerja (naker) juga belum sebanding dengan lapangan kerja yang ada. Untuk itu memacu wirausaha lewat bersinergi dengan industri diharapkan perlahan mampu memenuhi kebutuhan lapangan kerja di daerah. Tantangan selanjutnya adalah teknologi. Dengan menguasai teknologi upaya promosi produk juga mengakses peluang ekonomi makin terbuka lebar sehingga akan menguatkan wirausaha dengan menggarap berbagai peluang yang tersedia. Keberadaan BI ingin mendorong wirausaha menjadi tangguh dan berdaya saing tinggi. (gun)