“Laklak Biu” Penganan Tradisional yang Menggugah Selera di Ajang Tabanan Fiesta di Penebel

Astra tengah sibuk mengolah laklak biu di ajang Tabanan Fiesta di Kecamatan Penebel.

Tabanan (Bisnis Bali) – Pengunjung yang datang di ajang Tabanan Fiesta di Kecamatan Penebel yang merupakan serangkaian perhalatan HUT ke-524 Kota Tabanan tak hanya disuguhkan pertunjukan seni dan budaya, pada ajang tersebut pengunjung juga disuguhkan berbagai hidangan modern hingga tradisional yang mampu menggugah selera dan patut untuk dicoba. Salah satunya adalah laklak biu yang merupakan salah satu penganan tradisional dengan diolah secara unik, yakni dimasak menggunakan kayu bakar.

Salah seorang pebisnis laklak biu di ajang Tabanan Fiesta Kecamatan Penebel, I Wayan Astra Iwantara, Sabtu (25/11) lalu mengungkapkan, laklak biu merupakan penganan tradisional yang masih tetap eksis dengan banyak diminati pasar hingga kini. Itu terbukti pula pada ajang Tabanan Fiesta Kecamatan Penebel, permintaan pasar (pengunjung) cukup ramai.

“Respon konsumen, di ajang Tabanan Fiesta Kecamatan Penebel sangat ramai. Konsumen, bahkan tidak datang dari kalangan dewasa saja yang memang sudah familiar dengan laklak biu, namun tidak sedikit dari kalangan anak-anak yang juga tertarik mencoba menikmati salah satu penganan berbahan pisang ini, ” tutur Astra yang menggeluti usaha laklak biu sejak setahun terakhir ini.

Astra yang juga pemilik warung laklak sabar yang kesehariannya berjualan di daerah Pejaten, Kecamatan Kediri Tabanan, mengungkapkan, meski merupakan penganan tradisional, dalam perkembangannya sajian tersebut dimodifikasi dengan menambahkan cita rasa. Yakni, selain menawarkan cita rasa original (laklak biu), pihaknya kini juga menawarkan penganan sejenis dengan cita rasa laklak biu coklat dan laklak biu keju. Katanya, modifikasi hanya dilakukan pada perbanyak fariasi rasa, sedangkan untuk proses pembuatan atau memasak tetap mengutamakan menggunakan kayu bakar.

“Bisa dibilang penentu kenikmatan laklak biu ini terletak pada proses masak yang menggunakan kayu bakar. Sebab, dengan kayu bakar, kematangan laklak menjadi merata. Cuma memang proses memasaknya agak lama. Yakni, untuk per satu sajian membutuhkan waktu pembuatan 2-3 menit,” ujarnya.

Sementara itu, bebernya, per hari untuk membuat laklak biu, ia membutuhkan rata-rata mencapai 3 kg tepung beras, sedangkan untuk pisang membutuhkan bahan baku mencapai 50 biji per hari. Guna menunjang cita rasa, pisang yang digunakan adalah jenis pisang ketan.

“Dari jumlah tersebut rata-rata bisa memproduksi laklak biu ini mencapai 100 biji per hari. Dijual dengan kisaran Rp 2.000-Rp 3.000 per picis tergantung cita rasa,” tegasnya.*