Standar Mutu Produksi masih Jadi Sandungan Pemasaran Produk Lokal

Di sela-sela kegiatan Jatmiko Santosa dan Arief Mulyadi sempat mencoba melakukan proses pengolahan kopi produksi Kelompok Wanita Tani Amerta Giri.  (man)

Singaraja (Bisnis Bali) – Standar mutu termasuk hasil olahan dari sejumlah hasil pertanian lokal yang berubah-rubah masih menjadi permasalahan bagi produk lokal atau di dalam negeri untuk bisa bersaing dipasaran, tak terkecuali untuk bisa terserap kesektor pariwisata.

Di sisi lain, pasar selalu menuntut standar produksi yang bagus termasuk juga kemasan, dan teknik pengolahan yang bagus pula.

“Bila semua ketentun tersebut dikuasai dan konsisten, maka pangsa pasar akan degan sendirinya akan terbuka. Kebetulan kami di BUMN memiliki beberapa jalur pemasaran yang bisa dimanfaatkan nantinya. Namun yang terpenting adalah menerapkan standar mutu dulu dengan bagus,” tutur Direktur Strategi Korporasi dan Keuangan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Jatmiko Santosa, di sela-sela menyelenggarakan program peningkatan kapasitas (capacity building) bagi klaster petani kopi Kelompok Wanita Tani Amerta Giri di Desa Wanagiri, Kabupaten, Buleleng, Kamis (16/11).

Kegiatan capacity building yang dirangkai dengan peresmian product display stand dan peluncuran kemasan kopi Amerta Giri, serta penyerahan bantuan peralatan seduh kopi (manual brewing). Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Direktur Kepatuhan PNM Arief Mulyadi.

Jatmiko menjelaskan, dalam upaya meningkatkan kapasitas usaha mitra binaan, ITDC, BUMN pengembang dan pengelola kawasan pariwisata the Nusa Dua Bali dan KEK Pariwisata Mandalika Lombok, bekerjasama dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menyelenggarakan program peningkatan capacity building. Program yang diikuti sembilan belas petani kopi wanita tersebut mencakup pelatihan mengenai kemasan produk dan pengenalan teknik seduh kopi manual brewing.  

Katanya, pelatihan ini bertujuan agar anggota Amerta Giri dapat mengenal dan mengetahui teknik pembuatan kemasan produk, sehingga ke depannya mampu mengemas hasil produk olahan kopinya dengan baik serta menarik, sedangkan pelatihan pengenalan teknik seduh kopi manual brewing bertujuan untuk mengenalkan para petani kepada berbagai variasi teknik seduh kopi secara manual yang sedang populer saat ini, seperti metode French Press, Vietnam Drip, V-60, Moka Pot, Syphone dan Rox Presso, melengkapi metode seduh kopi klasik Kopi Tubruk yang sudah dikuasai sebelumnya.

“Melalui program pelatihan ini, kami ingin membekali para petani kopi mitra binaan kami dengan kemampuan pemasaran yang lebih baik melalui pembuatan kemasan produk yang lebih baik dan menarik,’’ katanya.

Selain itu, pihaknya juga memberikan pelatihan teknik seduh kopi yang sesuai perkembangan jaman agar para mitra binaannya bisa mengambil manfaat ekonomi seoptimal mungkin dari produksi kopi mereka seiring dengan peningkatan konsumsi kopi di Indonesia.

Direktur Kepatuhan PNM, Arief Mulyadi menjelaskan, selain pelatihan bagi anggota kelompok tani Amertha Giri, Program Kemitraan lain yang dilaksanakan ITDC bersama PNM berupa penyaluran dana sebesar Rp 500 juta kepada klaster petani jeruk dari kelompok tani Gapoktan Budi Luhur, Desa Katung, Kecamatan Kintamani, Bangli untuk budi daya tanaman jeruk jenis siam maupun slayer. Selain itu, dilakukan penyaluran dana mencapai Rp 500 juta kepada klaster petani kopi yang tergabung dalam kelompok Mertha Buana asal Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung untuk budidaya tanaman kopi varietas kopi robusta dan arabika.  (man)