Dibayangi Kelesuan Ekonomi Tradisi “Mesuryak” tetap Semarak di Hari Raya Kuningan

46
Masyarakat menyambut antusias tradisi mesuryak. (man)

Tabanan (Bisnis Bali) – Kelesuan ekonomi yang masih membayangi tak menyurutkan antusias masyarakat guna melestarikan budaya. Salah satunya tradisi mesuryak di hari raya Kuningan yang digelar  Banjar Bongan Gede, Desa Bongan, Kabupaten Tabanan.

Bendesa Adat Banjar Bongan Gede, I Nyoman Parwata, di sela-sela acara, belum lama ini mengungkapkan, tradisi mesuryak merupakan tradisi turun temurun yang ada di banjar-nya. Imbuhnya, dalam tradisi tersebut dilakukan dengan melemparkan sejumlah uang ke udara kemudian disambut warga sebagai simbul mengantarkan leluhur untuk kembali ke surga.

Mesuryak bertujuan mengantarkan roh leluhur kembali ke sorga. Karena sebelumnya yakni pada hari Raya Galungan para leluhur  berada di rumah. Setelah sepuluh hari tepatnya di Hari Raya Kuningan kami antarkan leluhur kembali ke surga,” tuturnya.

Parwata menjelaskan, dengan tradisi mesuryak diartikan bahwa suka cita bergembira dengan bersorak sambil melemparkan uang ke udara yang diperebutkan banyak orang. Katanya, besaran uang yang digunakan dalam mesuryak bervariasi, tergantung kemampuan ekonomi warga.

“Tradisi ini  ada secara turun-temurun itu tetap dilaksanakan setiap enam bulan sekali bertepatan dengan Hari Raya Kuningan,” ujarnya.

Sementara itu paparnya, prosesi mesuryak dimulai sekitar pukul 09.00 Wita sampai pukul 11.00 Wita. Diawali dengan persembahyangan mulai dari rumah  masing-masing warga, kemudian dilanjutkan persembahyangan di Pura Dalem Khayangan Tiga. Usai sembahyang di Pura Khayangan Tiga, persembahyangan dilangsungkan di merajan (Pura Keluarga Besar).

Dari pantauan tiap Hari Raya Kuningan, sekitar puluhan juta rupiah uang dipersembahkan oleh warga banjar Bongan Gede untuk tradisi mesuryak. Bahkan ada yang sengaja beberapa hari sebelum Hari Raya Kuningan, menukarkan uang kertas yang masih baru ke bank untuk dipesembahkan saat tradisi tersebut di Hari Raya Kuningan. (man)