Produksi Turun, Kuota Ekspor  Manggis Bali Diisi  Jabar

22
Pengkemasan produksi manggis petani siap ekspor. (man)

Tabanan (Bisnis Bali) – Manggis menjadi komoditi ekspor yang sangat diminati, namun sayangnya tahun ini Bali khususnya Kabupaten Tabanan yang menjadi salah satu sentra produksi manggis bercita rasa manis ini tak bisa optimal dalam memenuhi kuota ekspor tersebut. Sebab, jumlah kuota ekspor manggis dari Bali ini akan diisi oleh produksi dari Jawa Barat (Jabar).

Salah seorang petani sekaligus eksportir manggis, Jero Putu Tesan, di Desa Padangan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Selasa (7/11) mengungkapkan, kuota ekspor yang dimiliki  Bali kemungkinan tidak akan optimal dimanfaatkan oleh petani lokal pada tahun ini. Sebab rencananya kuota tersebut akan diisi oleh hasil produksi manggis dari petani Jabar yang akan dimulai pada awal Desember nanti.

“Tahun ini ekspor manggis dari Bali akan mulai dilakukan pada Desember nanti dengan mengandalkan produksi dari Jabar dan sebagian kecil merupakan produksi dari petani lokal,” tuturnya.

Jelas Tesan yang juga Ketua Asosiasi Manggis Indonesia, mendominasinya produksi antarpulau untuk memenuhi kuota ekspor manggis dari Bali ini karena produksi manggis ditingkat petani lokal atau Tabanan mengalami penurunan saat ini.

Bebernya,  kondisi cuaca ekstrim dicerminkan dengan tingginya tingkat curah hujan membuat produksi buah manggis di tabanan dan Bali secara umum menjadi turun dengan hanya mampu berproduksi 10 -15 persen saja saat ini. Padahal normalnya, produksi manggis untuk di Bali bisa mencapai sekitar 4.000-5.000 ton per tahun.

“Bercermin dari kondisi tersebut dengan produksi manggis yang turun di tingkat petani Bali, dan produksi manggis di Jabar yang masih bisa menghasilkan 40 persen di saat cuaca ekstrim ini. Maka, kami berencana mengisi kuota ekspor dengan memasukan produksi dari Jabar, karena kota ekspor merupakan kepercayaan buyer  yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Sementara itu paparnya untuk menjamin tanaman manggis ini bisa berbuah maksimal, tanaman manggis memerlukan kondisi cuaca panas sekitar Juli – Oktober. Katanya, priode tersebut tanaman manggis memerlukan suhu yang panas untuk mengembangkan bunga sebagai cikal bakal buah. Setelah bulan tersebut atau tumbuhnya bunga, tanaman manggis malah memerlukan hujan untuk kelanjutan pertumbuhan cikal bakal buah. Jika cuaca mendukung, akuinya pada Desember, Januari, dan Maret akan menjadi musim panen yang sekaligus menjadi jadwal pemenuhan kuota ekspor.(man)