Wabup Mahayastra Hadiri Prosesi Pakelem di Pantai Lebih

20
Kegiatan ritual pacaruan dan pakelem di Pantai Lebih, Gianyar, Senin, (6/11).

Gianyar (Bisnis Bali) – Menyikapi turunnya status Gunung Agung  dari level awas menjadi siaga, sejumlah masyarakat dari berbagai yayasan melakukan ritual pacaruan dan pakelem di Pantai Lebih, Gianyar, Senin, (6/11). Prosesi yang dimulai dari pukul 10.00 Wita tersebut dipuput oleh Ida Rsi Bhujangga Gria Belega, Blahbatuh.

Diawali dengan  pecaruan, ritual dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dihadiri Wakil Bupati Gianyar, Made Mahayastra serta sejumlah pejabat di Lingkungan Pemkab Gianyar. Selanjutnya, Wabup Mahayastra bersama masyarakat melakukan ritual pakelem berupa kambing hitam, angsa, bebek dan wewalungan lainnya di Pantai Lebih.

Wabup Mahayastra mengatakan, ritual pakelem ini dilaksanakan untuk mendoakan agar Gunung Agung bisa kembali normal, sehingga kehidupan masyarakat juga bisa kembali normal. Hal ini tak terlepas dari dengan sekian lamanya masyarakat terombang ambing dengan status Gunung Agung sehingga banyak yang mengungsi. Hal ini menyebabkan banyaknya kerugian yang ditimbulkan, baik dari segi materi, sosial serta kerugian lainnya.

“Ritual ini (pecaruan dan pakelem), untuk mendoakan agar Gunung Agung bisa kembali normal dan selalu membawa berkah bagi kita semua,” kata Mahayastra. Koordinator kegiatan, Ida Ayu Rusmarini mengatakan, terselenggaranya kegiatan ini merupakan hasil kerja sama beberapa yayasan, seperti Yayasan BOA, Armi, Puri Damai, Pekka, Pemkab Gianyar serta dari kalangan media.

Ritual upakara pakelem ini dilaksanakan secara bersamaan di empat titik yakni Gianyar, Jembrana, Tabanan dan Singaraja. Kegiatan ini merupakan wujud solidaritas dengan secara bersama-sama turut mendoakan agar status Gunung Agung yang sempat di level awas dan kini turun ke level siaga bisa kembali normal sehingga kehidupan masyarakat di wilayah yang termasuk zona merah bisa kembali normal.
“Banyak komponen yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kita secara sukarela urunan untuk melaksanakan ritual pecaruan dan pakelem di empat titik di Provinsi Bali,” terang Ida Ayu Rusmarini. (ad 2.047)