Denpasar (Bisnis Bali) -‎ Kasus demam berdarah dengue (DBD) hingga September 2017 mengalami penurunan dibandingkan pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Pada September tahun 2017 terjadi 885 kasus sedangkan pada bulan yang sama tahun 2017 terjadi 2.130 kasus.

Penurunan ini terjadi karena adanya berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan mulai dari pemberantasan sarang nyamun (PSN), penebaran bubuk larvasida sampai pada pembentukan jumantik mandiri. Demikian disampaikan Kelapa Dinas Kesehatan dr. Luh Putu Sri Armini yang didampingi Kabid Bina Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, IB Gede Eka Putra, Senin (6/11).

Menurut Sri Armini meski terjadi penurunan kasus Pemerintah Kota Denpasar tetap melaksanakan foging massal. Hal ini mengingat pada November dan Desember merupakan bulan musim penghujan, akan menyebabkan banyaknya genangan air seperti pada kontainer, selokan, wadah-wadah plastik ataupun kaleng bekas, kulit buah-buahan, lubang batu, dan lain-lain. Ini tentunya menjadi tempat yang sangat potensial bagi nyamuk aedes aegypti untuk bersarang dan berkembang biak yang berakibat pada meningkatnya penularan penyakit DBD sehingga seringkali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

Untuk mewaspadai dan mengantisipasi serangan penyakit DBD, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan di dalam maupun di luar rumah. Salah satu bentuk kegiatan yang paling efektif dan efisien untuk tujuan tersebut adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN). “Kami selalu mensosialisasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kebersihan terutama melaksanakan PSN plus,” ujar Sri Armini.

Untuk memutus mata rantai penularan dan memaksimalkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit DBD. Menurut Sri Armini kasusnya diprediksi akan meningkat tajam seiring dengan turunnya musim penghujan  di mana puncak kasusnya diprediksi terjadi pada April-Mei 2018.

Untuk itu Pemerintah Kota Denpasar melalui Dinas Kesehatan bersama masyarakat melaksanakan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Sebelum Musim Penularan dengan cara 3 M Plus (G 3M SMP) dan Larvasidasi Massal pada tempat air yang sulit dibersihkan sejak awal bulan September. Untuk melakukan kegitan tersebut melibatkan 474 Jumantik dan Koordinator Jumantik serta 44.242 Jumantik Mandiri (Self Jumantik) yang telah terbentuk melalui program ”GEMA PETIK” (Gerakan mandiri Pemantau Jentik) dan anggota masyarakat lainnya.

Mengingat Kota Denpasar merupakan daerah endemis DBD di mana setiap tahun kasusnya selalu ada dan cenderung terjadi KLB, maka untuk lebih memaksimalkan upaya pencegahan dan pengendalian DBD tersebut Pemkot Denpasar juga melaksanakan penyemprotan/foging massal mulai tanggal  4 November hingga 11 Desember tahun ini. (sta)