Denpasar (Bisnis Bali) – Penurunan harga bahan makanan khususnya cabai rawit yang mencapai 0,1793 persen, memberi sumbangan yang cukup besar pada indeks harga konsumen (IHK) di Singaraja pada Oktober 2017 lalu. Kota di bagian utara Bali ini tercatat mengalami deflasi 0,38 persen atau indeks harga konsumen (IHK) turun dari 136,19 pada September 2017 menjadi 135,67 pada Oktober 2017.

“Tingkat inflasi tahun kalender (Januari – Oktober) 2017 mencapai 0,42 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2017 terhadap Oktober 2016) adalah 1,85
persen,” tutur Kepala BPS Bali, Adi Nugroho di Denpasar, Senin (6/11) kemarin.

Ia menerangkan, deflasi ditunjukkan oleh turunnya indeks yang hanya tercatat pada kelompok bahan makanan mencapai 1,96 persen. Lima kelompok lainnya mengalami peningkatan indeks atau inflasi dengan urutan, kelompok sandang 0,79 persen, kelompok kesehatan 0,42 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,30 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,12 persen serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,01 persen. Di sisi lain, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga tidak mengalami perubahan indeks.

Beber Adi, Oktober 2017 tercatat beberapa komoditas yang tercatat mengalami penurunan harga. Di antaranya, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, tempe, apel, tepung terigu, cumi-cumi, ketimun, tongkol pindang, tomat sayur, dan sawi hijau. Komoditas yang tercatat mengalami peningkatan harga antara lain, beras, rokok putih, sabun mandi, sepatu laki-laki dewasa, bahan bakar rumah tangga, jeruk, salak, dan pisang. Oktober 2017, dari tujuh kelompok pengeluaran, hanya satu kelompok pengeluaran yang tercacat memberikan andil sumbangan deflasi, yaitu kelompok bahan makanan 0,5236 persen. Lima kelompok pengeluaran lainnya tercatat memberikan andil atau sumbangan inflasi dengan urutan yakni, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,0628 persen, kelompok sandang 0,0338 persen. Selain itu, inflasi disumbang juga oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,0301 persen, kelompok kesehatan 0,0166 persen serta kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,0011 persen.

“Kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga tercatat tidak memberikan andil atau sumbangan inflasi pada Oktober 2017 lalu,” ujarnya. (man)