Amlapura (Bisnis Bali) – Ternak seperti ternak sapi milik pengungsi  dilego atau dijual murah saat situasi panik akibat status Gunung Agung dinyatakan awas 22 September lalu, bisa diganti atau dibantu pemerintah pusat. Hal itu jika peternak sapi itu mengajukan permohonan bantuan lengkap dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

Hal itu disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Ternak Kementerian Pertanian RI, I Ketut Diarmita, usai bertemu Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri di Pos Penanganan Darurat Tanah Ampo, Karangasem, Sabtu (4/11) lalu. Ketut Diarmika asal Busungbiu, Buleleng itu mengatakan, penggantian atas pengajuan petani ternak itu pada 2018. ‘’Kita memiliki anggaran untuk penggantian 200 ekor sapi. Itu untuk pengungsi yang panik dan terpaksa menjual sapinya. Itu kalau ada bukti, bisa diajukan permohonannya melalui  Dinas Peternakan Kabupaten,’’ paparnya.

Soal sapi pengganti itu, nantinya diberikan berupa ternak sapi dan bukan uang, dan pembelian sapi itu diserahkan kepada pihak Dinas Pertanian  Pemkab Karangasem.

Di lain pihak, Kepala Dinas Pertanian Karangasem yang menangani sektor peternakan Ir. Wayan Supandi mengatakan, pihaknya juga memperjuangkan, bantuan untuk ganti rugi, jika ada ternak sapi yang mati atau patah saat dalam kondisi panik saat pengangkutan pergi atau pulang ke pengungsian. Perjuangan dilakukan ke pemerintah pusat.

Supandi mengatakan, pihaknya belum memiliki data pasti, berapa sebenarnya jumlah ternak sapi pengungsi yang mati atau pun patah tulang kaki dalam pengangkutan ke pengungsian lalu. Namun, ternak yang patah dalam pengangkutan truk itu ada beberapa.

 Menurut Supandi,  petani peternak perlu dibantu. Soalnya,  petani atau peternak kecil yang memiliki beberapa ekor sapi, bahkan ternak dari ngadas, sangat perlu dibantu perekonomiannya. Meski Gunung Agung belum meletus, dan sempat terjadi kepanikan pada pekan ketiga September lalu, banyak petani atau peternak sapi yang menjual ternaknya dengan harga murah, karena panik. Ternak dijual secara banting harga, bahkan sekitar 50 persen di bawah harga standar. Ternak sapi jantan bulunya sudah hitam dengan ukuran badan besar, seharusnya harganya Rp 15 juta, tetapi dijual Rp 6 juta sampai Rp 7 juta.

Belakangan ini, ketika  kondisi kegempaan Gunung Agung sudah jauh menurun dan statusnya sudah dinyatakan turun dari awas menjadi siaga, petani ternak yang dulu membanting harganya bahkan ada yang mengibahkan sapinya itu, merasa terpukul. Setelah tinggal di pengungsian sekitar 39 hari, uang hasil menjual ternak menipis bahkan sudah habis, ketika pulang dari pengungsian, ternyata sudah tak memiliki apa-apa. Perekonomian masyarakat kecil dari kawasan rawan bencana 3, 2 dan 1 pun limbung. Mau membeli bibit ternak, modal tak ada.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, Putu Sumantra ditemui di lokasi yang sama Sabtu itu, mengakui terjadi kepanikan pada pekan ketiga September lalu, memang ada informasi banyak petani ternak yang panik mengungsi menjual ternaknya dengan harga yang rendah. Namun, setelah tanggal 24 September, pihaknya menyampaikan imbauan jangan sampai menjual ternak dengan harga rendah atau banting harga. Ternak sapi para pengungsi sudah disediakan lahan tempat menitipkan ternaknya  yang sudah banyak disediakan di beberapa desa terdekat dengan desa pengungsi. (bud)