Bunga Penjaminan LPS Terbaru  Bank Potensial Lepas dari ”Demam Panas”

10

Mangupura (Bisnis Bali) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan tingkat suku bunga penjaminan simpanan terbaru yaitu turun 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen bagi bank umum dan 8,25 persen di bank perkreditan rakyat. Bunga penjaminan LPS terbaru mulai 3 November 2017 hingga 15 Januari 2018 tersebut diyakini akan berpengaruh positif bagi perbankan maupun pengusaha.

Wakil Ketua Kadin Bali Bidang Finansial dan Moneter, IB Kade Perdana, M.M. di Jimbaran, Minggu (5/11) kemarin mengatakan, suku bunga LPS mengalami penyesuaian seiring dengan tren turunnya bunga acuan BI 7 DRR. Barunya bunga penjaminan LPS tersebut akan berdampak positif terhadap makin membaiknya efisiensi perbankan. Biaya dana bisa menjadi makin murah, demikian juga bunga pinjaman bisa juga terdorong makin rendah dan terjangkau.

“Kondisi perbankan ini tentu baik bagi para pengusaha karena mereka akan makin tertarik untuk mendapatkan pinjaman dari bank,” katanya.

Mantan Dirut Bank Sinar ini pun meyakini bank akhirnya bisa berangsur-angsur keluar dari kondisinya yang kemungkinan “demam panas” atau berarti lepas dari keadaannya yang cenderung tidak normal. Itu terjadi karena ada peluang untuk melakukan fungsi intermediasi dengan lebih baik.

“Ini tentu bisa mendukung penguatan daya beli yang selanjutnya mampu menggerakkan perekonomian yang lagi stagnan dengan berkontribusi lebih tinggi ke depan,” paparnya.

Ia pun berharap dari turunnya bunga penjaminan LPS, volume penyaluran kredit selanjutnya bisa mencapai di atas 20 persen seperti yang pernah dicapai pada masa lalu. Namun di lain pihak dengan menurunnya bunga pinjaman, kata Kade Perdana, akan membuat pendapatan bank berpeluang juga makin menurun karena di lain pihak fix cost atau biaya tetapnya sudah telanjur tinggi.

“Bank yang modal kecil dan ketergantungan pada dana pihak ketiga (DPK) membuat pergerakannya makin terbatas. Demikian juga dalam penyaluran pinjaman makin terpuruk dengan tingkat persaingan yang makin ketat,” ungkapnya.

Di kalangan BPR misalnya, mereka sulit untuk bertahan. Bank-bank dengan modal kecil ini akan sulit bersaing dan tinggal menunggu waktu untuk lenyap dari peredaran, apalagi dewasa ini kondisi perekonomian yang lagi stagnan.

“Sesungguhnya menurut hemat kami, kondisi perbankan secara umum saat ini sedang dilanda demam panas atau cenderung tidak sehat, banyak potensi kredit bermasalah akan bermunculan, kendati pun pihak otoritas mengklaim bahwa kondisi perbankan dalam keadaan sehat,” jelasnya. (dik)