“Guide” Rasakan Dampak Pembatalan Kunjungan Wisatawan

39
BERLIBUR - Wisatawan Jepang yang berlibur dan sedang berlibur di Bali. (kup)

Denpasar (Bisnis Bali) – Akibat peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung, menyebabkan terjadi pembatalan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali. Pembatalan kunjungan wisatawan ke Bali menyebabkan penghandelan tour wisatawan Jepang turun hingga 40 persen.

Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali, Nyoman Nuarta Jumat (3/11) mengatakan, wisman menunda berlibur ke Bali karena peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Agung. Wisatawan yang melakukan penundaan berlibur ke Bali adalah wisatawan Jepang, Cina, dan Korea.

Ia menjelaskan, pramuwisata juga merasakan dampak pembatalan kedatangan wisatawan yang berlibur ke Bali. Walaupun demikian, anggota HPI tetap berupaya menciptakan pencitraan positif terhadap pariwisata Bali.

Ia mencontohkan pramuwisata Korea di Bali sebelumnya sempat menampilkan  kondisi kawasan Pura Besakih melalui media sosial. Ini menunjukkan kawasan Pura Besakih masih aman terutama kepada pasar Korea.

Lebih lanjut dikatakannya, pasar Korea merupakan pasar yang unik. Upaya pramuwisata Korea menyampaikan kondisi Pura Besakih secara langsung  sangat berpengaruh positif mendorong kedatangan wisatawan Korea ke Bali.

Wisatawan Korea ingin melaksanakan pernikahan maupun bulan madu mulai berdatangan ke Bali.

Ia melihat wisatawan Amerika ada yang membatalkan berlibur ke Bali pasca-status awas Gunung Agung. Sementara kunjungan wisatawan Australia masih sangat bagus ke Bali.

Kunjungan wisatawan Italia dan Spanyol mengalami penurunan. Ini akibat dampak pemberitaan status awas Gunung Agung.

Ia menegaskan, penurunan kunjungan wisatawan Jepang ke Bali mencapai 40 persen. Ini secara otomatis anggota HPI di divisi bahasa Jepang merasakan  penurunan penghandelan tour dari pasar Jepang.

Ia menilai pasar Tiongkok turun sekitar 15 persen. Penurunan kunjungan wisatawan Tiongkok Jepang ini murni karena berita Gunung Agung. Sebelumnya Gunung Agung sudah diberitakan meletus. Ini memunculkan ketakutan khususnya dari wisatawan Jepang untuk berlibur ke Bali.

Nyoman Nuarta menambahkan, penurunan kunjungan wisatawan ke Bali Oktober 2017 buka karena masa low season. Sebaliknya, bercermin data kunjungan 2016 Oktober dan November merupakan masa high season kunjungan wisatawan Jepang ke Bali. (kup)