Koperasi harus Kedepankan Gotong Royong dan Kekeluargaan

22

Denpasar (Bisnis Bali) – Koperasi memiliki badan hukum dan menjalankan unit usaha. Koperasi didirikan oleh sekelompok orang yang memiliki keinginan bersama, sehingga koperasi yang memiliki jati diri mesti menjalankan asas koperasi yang benar untuk kesejahteraan anggota.

Pemerhati koperasi, ‎Dr. Putu Astawa, S.E., M.M., Selasa (17/10) di Denpasar menegaskan, tata kelola koperasi wajib menunjukkan jati diri yang dapat dinikmati semua anggota. Anggota koperasi sekaligus pemilik koperasi harus semuanya sejahtera. Oleh karena itu, pengelolaan koperasi yang benar memaksimalkan rasa kegotongroyongan dan kekeluargaan. Kedua asas tersebut diyakini mampu memaksimalkan tata kelola koperasi. Koperasi mempunyai asas-asas yang berasal dari negara Indonesia, karena badan usaha ini bersumber dari masyarakat Indonesia itu sendiri.

Menurut Astawa, ada  dua asas, di antaranya ‎asas kekeluargaan. A‎sas ini mengandung makna adanya kesadaran dari hati nurani setiap anggota koperasi. Untuk mengerjakan segala sesuatu dalam koperasi yang berguna bagi semua anggota dan dari semua anggota koperasi itu. Jadi, bukan untuk diri sendiri maupun beberapa anggota saja, uga bukan dari satu anggota melainkan mencakup semuanya. Dengan asas yang bersifat seperti ini maka semua anggota akan mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

”Kemudian asas kegotongroyongan. A‎sas ini mengandung arti bahwa dalam berkoperasi harus memiliki toleransi, sifat mau bekerja sama, juga sifat-sifat lainnya yang mengandung unsur kerja sama, bukan orang perorangan,” kata Astawa.

Ia menambahkan, perkembangan koperasi bukan hanya dibebankan pada pengurus selaku pengelola. Tapi peran anggota juga amat penting. Hanya saja, ujung tombak perkembangan koperasi memang ada pada pengelola koperasi. Jika ingin koperasi berjalan baik, maka pengelolanya juga berperan baik dan sebaliknya. Peran pengelola memberikan pelayanan kepada anggota sangat strategis menularkan tatakelola koperasi yang benar.  (sta)