KEGIATAN penangkapan lobster  yang dilakukan nelayan di  Desa Ketewel, Kabupaten Gianyar, biasanya pada Agustus sampai Desember. Nelayan melakukan penangkapan dari pukul 04.00 sampai pukul 10.00, dengan hasil tangkapan rata-rata Rp1.504.000/hari.

Ir. I Ketut Arnawa, M.Si., dosen Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati  Denpasar  memaparkan, penangkapan lobster mampu memberikan kesejahteraan kepada para nelayan di Desa Ketewel dengan jam kerja selama 6 jam. Hasil tangkapan nelayan rata-rata 2,5 kg/hari dengan nilai produksi mencapai Rp 1.875.000,00 dengan biaya yang dikeluarkan nelayan rata-rata untuk bahan bakar mencapai Rp 71.000,00 dan rata-rata biaya tenaga kerja Rp 300.000/hari. Maka rata-rata pendapatan nelayan Rp 1.504.000/hari atau Rp 45.120.000/bulan.

“Ada  beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melakukan penangkapan lobster ini adalah alat yang digunakan untuk menangkap lobster terutama tingkat risiko yang ditimbulkan terhadap hasil tangkapan. Jadi alat tangkap yang paling tepat digunakan adalah bubu, yang menjamin lobster tetap hidup dan tidak menimbulkan dampak negatif yang dapat mengancam kelestarian ekosistem,” tandasnya. Karena lobster hidup dan tidak mengalami cacat, harga jualnya jauh lebih tinggi sehingga penggunaan bubu ini paling tepat.

Di Kabupaten Gianyar, bubu umumnya terbuat dari bambu, dengan aneka ragam bentuk. Daerah penangkapan sangat menentukan keberhasilan usaha penangkapan lobster. Berdasarkan skala usaha yang diterapkan, ada dua sistem pengoprasian alat tangkap lobster dengan menggunakan bubu, yaitu sistem tunggal (single trap) dan sistem berangkai (long line traps). Sistem tunggal merupakan cara pengoperasian alat tangkap dengan menggunakan hanya satu buah alat tangkap per satu kali pemasangan. Pengoprasian sistem tunggal memerlukan sebuah pelampung dan seutas tali dengan panjang disesuaikan oleh nelayan-nelayan kecil yang mempunyai sarana sederhana dan modal terbatas.

Pengoperasian sistem berangkali memerlukan tali utama dengan ukuran panjang disesuaikan dengan banyaknya alat tangkap yang akan digunakan. Selain itu, sistem ini juga memerlukan tali pemberat dan pemberatnya serta tali pelampung dan pelampungnya. Sebelum dioperasikan, seluruh komponen alat tangkap bubu haarus disiapkan di bagian butiran kapal. Umpan dipasang kuat-kuat pada masing-masing alat tangkap sehingga tidak mudah lepas. Penebaran bubu dapat dilakukan setiap saat, pada saat kapal bergerak maju dengn kecepatan 3 knot. Tali pelampung bubu pertama yang dijatuhkan ke laut akan diikuti oleh bubu bubu berikutnya secara otomatis karena tertarik oleh bubu sebelumnya.

”Pengangkatan bubu dilakukan pada siang hari agar lebih mudah menemukan pelampung tanda. Bagian pertama yang diangkat adalah pelampung tanda, dengan menggunakan pengait,” terangnya. (pur)