Intip Tata Kelola Taman dan Kebersihan PIP Badung 2017 Kunjungi Pemkot Bandung

21

SETELAH ke Purwakarta, rombongan Pekan Informasi Pembangunan (PIP) Badung 2017 melanjutkan kunjungan ke Pemkot Bandung. Apa yang ingin diperoleh dan apa hasilnya?

Rombongan PIP Badung 2017 yang dipimpin Bupati Badung Nyoman Giri Prasta, Kamis (12/10), diterima Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial beserta sejumlah SKPD terkait. Selain Bupati, ikut dalam rombongan Sekkab Badung Wayan Adi Arnawa, Kepala Bappeda Made Wira Darmajaya, Kadis Pariwisata Made Badra, Asisten I IB Yoga A. Segara, Kabag Perwat Wayan Puja, Kabag Keuangan AA Gede Rahmadi, dan Kabag Humas Putu Ngurah Thomas Yuniarta. Rombongan juga menyertakan puluhan wartawan dari media massa cetak dan elektronik.

Bupati Giri Prasta memaparkan, sebagai destinasi wisata internasional, persoalan kebersihan termasuk pertamanan, sampah dan limbah harus mendapat penanganan yang semestinya sehingga tidak menjadi ancaman. “Dalam mendukung pariwisata, hal ini kami harus berikan perhatian secara serius,” katanya.

Untuk itulah, tujuan kunjungan ini untuk memperdalam tata kelola kebersihan, pertamanan, sampah termasuk limbahnya. “Bagaimana tata kelola yang diterapkan di Kota Bandung,” ujarnya memaparkan  tujuan kunjungan.

Bupati asal Plaga Petang ini memastikan, PIP sangat bermanfaat bagi pembangunan di Badung. Dia mencontohkan, Badung sempat berkunjung ke Indramayu yang salah satu desanya memperoleh juara nasional. “Setelah berkunjung dan menggali kiat-kiat yang dilakukan, akhirnya Kutuh salah satu desa di Badung mampu meraih juara I nasional,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Giri Prasta sempat memaparkan program pembangunan di Badung. Walau baru 2,5 tahun, Bupati menyatakan sudah mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi mulai program lahir, hidup dan mati. Selanjutnya program Badung smart city dan telah membangun Badung Command Centre. Pada 2018 Badung mampu memberikan WiFi gratis. Ini juga berkat studi komparasi ke Bandung.

Sebelum menjawab harapan Bupati Badung, Wawali Kota Bandung Oded M. Danial sempat memaparkan kondisi wilayah Bandung yang terdiri atas 30 kecamatan, 151 kelurahan, 1.587 RW dan 10.000 RW. Jumlah penduduk sekitar 2,4 juta jiwa. “Pada siang hari jumlah penduduk bisa menembus 3,5 juta,” kata Oded.

Ketika kelurahan tidak memperoleh dana APBN, pihaknya mengupayakan pemerataan lewat program PIPPK, program inovasi pembangunan kewilayahan. Elemen kelurahan digelontor dana masing-masing Rp 100 juta untuk PKK, karang taruna serta LPM. “Kami menggelontor hingga Rp 220 miliar per tahun sehingga ada pemerataan karena hanya desa yang mendapat dana desa dari APBN,” katanya.

Kebijakan ini pun membuahkan hasil. Output bukan sekadar pembangunan. Yang tak kalah penting adalah suasana gotong-royong muncul kembali. Dulu, katanya,  ada 40 sungai dengan sedimentasi dangkal. Sekarang dengan program PIPPK bisa tertanggulangi. Selain itu pihaknya menghadirkan satu taman satu RW, terutama taman bermain anak. “Taman ini bahkan bisa dimanfaatkan masyarakat resepsi pernikahan,” katanya.

Soal tata kelola kebersihan dan sampah, ujar Oded, Bandung merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang masih memiliki Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan. PD ini bermitra dengan DLHK yakni sebuah kolaborasi dinas termasuk dengan pemerintah dan masyarakat. PD Kebersihan ini mampu berjalan dengan baik dan masuk dalam kategori sehat. Hasilnya, Adipura yang sempat hilang selama 17 tahun, bisa kembali.

Soal limbah, tegasnya, PDAM memiliki salah satu tugas dalam hal penanganan limbah. Bandung memiliki lahan 80 hektar di daerah Bojong Soang. Tempat ini digunakan untuk men-treatment air kotor jadi bersih dan dialirkan ke hilir. Selain itu, Wawali menyatakan ada penemuan teknologi pengolahan limbah jadi air bersih. Ruang yang diperlukan tak perlu besar dan bisa mengolah limbah 500 kepala keluarga. Limbah masuk ke mesin itu, keluar sudah langsung bersih.

Terkait kebersihan, DLHK hanya selaku regulator. Upaya lain, katanya, sampah-sampah dikelola mulai RT. Pemilihan sampah dari rumah masing-masing. Sampah organik dan anorganik dipisahkan. Selanjutnya akan dibeli bank sampah.

Hal ini dilakukan, katanya, pembuangan sampah ke TPA biaya pengantarannya sangat mahal hingga puluhan miliar. Khusus untuk PD Kebersihan, katanya, dalam kondisi sehat. PD Kebersihan mampu mengumrohkan karyawannya.

Kebijakan mengelola sampah lewat PD Kebersihan memperoleh sambutan baik dari Sekkab Badung Wayan Adi Arnawa. Menurutnya, selain mengurangi beban Pemkab, di sisi lain PD mampu mendatangkan profit walaupun itu bukan sebagai tujuan utama. (ad.19