Bank Diminta tak Hentikan Pembiayaan Usaha Potensial

24

Denpasar (Bisnis Bali) – Industri perbankan diharapkan dalam upaya menekan pertumbuhan rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) tidak menghentikan pembiayaan ke sektor-sektor usaha potensial. Dalam upaya menekan NPL yang masih tinggi saat ini, perbankan sebenarnya masih memiliki peluang meningkatkan pertumbuhan kredit dengan terus meningkatkan konsolidasi dan kehati-hatian dalam pemberian kredit.

Wakil Ketua Kadin Bali Bidang Finansial dan Moneter, IB Kade Perdana, M.M. di Sanur, Rabu (11/10) mengatakan, perbankan harus memperhatikan beberapa aspek terkait penyaluran kredit. Hal itu karena berkaitan dengan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

“Kendati saat ini bayang-bayang NPL tinggi masih memungkinkan, bukan berarti perbankan tidak menyalurkan kreditnya kepada pelaku usaha,” katanya.

Ia mengatakan, banyak usaha yang potensial untuk dibiayai, satu di antaranya UMKM. Sektor UMKM masih bisa eksis dan menguntungkan untuk bisa dibiayai perbankan. Usaha-usaha yang bisa dibiayai dengan kredit serta diharapkan kemampuan membayar kembali pinjamannya antara lain sektor kuliner, sembako, rumah sakit, pendidikan, dan tentu khususnya sektor UMKM.

“Namun demikian, pihak perbankan juga jangan sampai mengabaikan penilaian terhadap kemauan atau keinginan untuk membayar kembali pinjaman (willingness to pay) dari para calon peminjam,” katanya.

Pemerhati perbankan Kusumayani, M.M. mengatakan, permintaan kredit sudah mulai tumbuh kendati tidak tinggi. Ini akan membawa pengaruh yang baik bagi kinerja bank. Harapannya kini rasio NPL untuk bank umum pun berpotensi tidak tinggi atau di kisaran di bawah 3 persen.

“Perbankan intinya harus mampu selektif dalam menyalurkan kreditnya. Termasuk, konsolidasi jangan sampai dilupakan,” katanya. (dik)