Singaraja (Bisnis Bali) – Penggunaan pusung tagel dalam tata rias rambut, menjadi ciri khas sebagai perempuan Bali. Namun, kecenderungan masyarakat khususnya perempuan menganggap penggunaan pusung tagel susah dan ribet, sehingga banyak perempuan yang enggan menggunakannya.

Hal inilah yang mendorong digelarnya Workshop Tata Rias, Lelunakan, Pusung Tagel dan Etika Busana ke Pura yang digelar Salon Agung bekerja sama dengan Koran Bisnis Bali di Gedung Laksmi Graha Buleleng, Selasa (10/10).

Pakar kecantikan dan pemilik Salon Agung, Dr. Dra. AA Ayu Ketut Agung, M.M, mengatakan, penggunaan pusung tagel sebagai ciri khas bagi wanita Bali, hendaknya tidak tergerus oleh zaman. Penggunaan pusung tagel ini tidak ribet, jika mengetahui tekniknya dengan baik. ”Bahkan, tidak membutuhkan waktu lama. Penggunaan pusung tagel ini hanya membutuhkan waktu 5 menit,” katanya.

Hal tersebutlah yang ditekankannya dalam menyampaikan materi kepada peserta yang dalam kegiatan ini menyesar ibu PKK di Kabupaten Buleleng. “Saat ini, banyak perempuan enggan menggunakan pusung tagel. Selain dianggap ribet dan susah, penggunaan pusung tagel ini juga dianggap membuat penampilan menjadi lebih tua. Padahal, jika diketahui tekniknya dengan baik, pusung tagel akan terlihat sangat cantik,” katanya.

Penggunaan pusung tagel ini juga dikatakannya mendukung kelestarian budaya Bali, sehingga sangat perlu disosialisasikan kepada masyarakat, yang penggunaannya sangat mudah dan praktis. Melalui pelatihan ini, dia berharap masyarakat mengerti dan mampu membuat pusung tagel secara madiri. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu lagi ke salon untuk membuat pusungan, dan tentunya akan menambah nilai ekonomi dalam keluarga.

Selain penggunaan pusung tagel, AA Ayu Ketut Agung juga memaparkan cara menggunakan make-up serta tata busana yang baik dan benar untuk ke pura. Penggunaan pakaian ke pura diharapkan tertutup dan terkesan sopan. Demikian juga dalam kesempatan ini dia turut menjelaskan tentang tata rias Bali modifikasi, khususnya tengkuluk lelunakan.

Di sisi lain, workshop tata rias kecantikan ini, juga dikatakannya bertujuan menggali potensi masyarakat, terutama perempuan untuk mengembangkan bisnis. Perkembangan dunia tata rias kecantikan saat ini begitu pesat dan menjadi kebutuhan sebagian besar masyarakat, terutama dalam pelaksanaan upacara ataupun acara penting. Dengan demikian, pengetahuan tentang tata rias kecantikan memberikan peluang usaha bagi masyarakat. Usaha di bidang jasa tata rias sangatlah membantu perempuan di tengah-tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga ataupun pekerjaan lain yang dilakukannya. Hal ini dikarenakan, jasa tata rias bersifat fleksibel yang tidak mengikat waktu.

Senada dengan itu, Pemimpin Umum Bisnis Bali, Ni Nengah Srianti juga mengatakan, selain sebagai ajang pelestarian budaya, workshop yang dilakukan secara rutin serta road show ke seluruh kabupaten/kota yang ada di Bali ini, juga bertujuan memberikan peluang bisnis kepada masyarakat, mengingat tata rias Bali sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan umat Hindu di Bali.  “Kami berharap, dengan diberikan pemahaman tentang kecantikan dan didorong oleh semangat kewirausahaan ini, mampu memberikan peluang bisnis bagi perempuan,”katanya. (wid)