Harga babi di tingkat peternak di Bali pada momen Galungan dan Kuningan yang jatuh pada awal November mendatang dipastikan akan lebih mahal dibandingkan hari biasanya, tak terkecuali jika dibandingkan dengan momen serupa enam bulan lalu. Penyebabnya, bukan hanya disebabkan oleh naiknya permintaan pasar saat itu, namun ditopang juga oleh faktor lain.  Apa saja faktor penopang lonjakan harga babi tersebut?

MOMEN Hari Raya Galungan dan Kuningan yang tinggal 24 hari lagi ini, tampaknya akan membuat peternak babi di Bali menjadi sumringah. Betapa tidak, sama seperti momen serupa sebelumnya, Hari Raya Galungan dan Kuningan seringkali berdampak pada meningkatnya permintaan pasar akan babi, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun yang diperuntukkan sebagai upakara. Namun, momen Galungan dan Kuningan tahun ini diprediksi sejumlah kalangan peternak akan membuat harga babi di pasaran, khususnya di tingkat peternak akan menjadi lebih mahal lagi dibandingkan dengan momen serupa sebelumnya.

Wakil Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi (Gubi) Bali, Nyoman Ariadi mengungkapkan, tahun ini harga babi bisa dibilang akan lebih baik dari momen serupa sebelumnya. Betapa tidak, selain disebabkan meningkatnya permintaan pasar, lonjakan harga babi ini makin tinggi dari sebelumnya karena faktor isu meningitis pada babi yang sempat merebak pada momen Galungan dan Kuningan lalu, saat ini sudah mereda. Selain itu, faktor pendukung lainnya yang mempengaruhi lonjakan harga ini karena ada kecenderungan populasi babi di Bali mengalami penurunan dari sebelumnya.

“Penurunan populasi ini disebabkan tingginya biaya produksi, membuat berhentinya sejumlah kalangan peternak kerakyatan mengusahakan ternak babi. Namun, untuk seberapa besar persis angka penurunan tersebut, kami tidak bisa ketahui secara pasti karena sangat jarang kalangan peternak kerakyatan ini yang menyatakan bila dirinya adalah seorang peternak,” tuturnya.

Menurutnya, belakangan ini ada kecenderungan di tingkat usaha peternak babi kerakyatan enggan untuk beternak, karena dinilai tidak ada nilai lebih yang didapat, sehingga itu akhirnya menurunkan juga populasi babi di Bali saat ini. Selain itu, pengiriman babi antarpulau sudah mulai terjadi, seiring dengan kualitas babi produksi yang ada di Bali sudah makin bagus. Katanya, saat ini hampir tidak ada lagi peternak yang menggunakan pakan tradisional (dedak), melainkan menggunakan pakan pabrikan, sehingga mutunya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Babi produksi peternak di Bali ini banyak yang sudah dilempar antarpulau. Di antaranya, ke Jakarta dan Surabaya. Pengiriman tersebut otomatis akan mengurangi populasi babi di Bali,” ujarnya.

Jelas Ariadi yang merupakan peternak babi berskala intensif (populasi berskala besar), Galungan dan Kuningan nanti kemungkinan harga babi untuk di sektor peternak kerakyatan akan berada di level Rp 26.000 per kg atau naik dari patokan harga saat ini yang berada di kisaran Rp 24.000 per kg. Tambahnya, di sisi lain untuk prediksi Galungan dan Kuningan untuk harga babi di tingkat peternak sekala intensif kemungkinan akan berada di level Rp 28.000 per kg, bahkan bisa tembus dilevel Rp 30.000 per kg tergantung dari strategi pasar yang dilakukan oleh investor besar terkait distribusi babi di tingkat lokal maupun antarpulau pada saat itu.

Prediksi harga tersebut, jika dibandingkan dengan harga pada momen serupa sebelumnya jauh lebih baik. Sebab diakuinya, pada Galungan dan Kuningan lalu, harga babi ini hanya bisa bertengger di kisaran Rp 23.000 per kg untuk peternak kerakyatan dan Rp 26.000 per kg untuk harga di tingkat peternak babi intensif. Artinya, harga babi sudah lebih bagus dari sebelumnya. (man)