Mangupura (Bisnis Bali) – Penggunaan uang elektronik (e-money) saat ini menjadi tren di masyarakat seiring gaung penggunaan transaksi nontunai. Di tengah antusiasme masyarakat menggunakan transaksi nontunai ini, perbankan mengimbau dan mengingatkan kepada masyarakat untuk menjaga unik yang dimilikinya agar tidak rusak atau pun hilang.

Pemimpin BNI Kanwil Bali NTB dan NTT, Bagus Putu Kresna di Sanur mengatakan, uang elektronik tidak hanya yang dikenal masyarakat sebagai uang berbentuk kartu seperti tapcash, e-money, brizzzi atau lainnya, karena e-wallet (dompet elektronik) juga termasuk di dalamnya. Bedanya e-wallet terdaftar maksimal Rp 10 juta sedangkan unik maksimal Rp 1 juta.

“Intinya e-wallet sama dengan unik yang terdaftar,” katanya.

Untuk itu, pemilik unik harus menjaga kartu dengan baik karena sama dengan uang, jika kartu hilang maka uang di dalamnya tidak ada yang bisa menggantinya.

“Dana yang ada di dalam kartu bukan tabungan bagi masyarakat atau pun dana pihak ketiga (DPK) bagi bank. Masyarakat beli kartu maupun mengisi ulang (top up) unik, uang yang masuk bukan tergolong DPK,” jelasnya.

Bagus Kresna menegaskan, ini juga sekaligus menjelaskan jika tidak benar jadinya jika masyarakat membeli unik berarti bank menghimpun dana dari situ. Oleh karenanya, sekarang yang harus diperhatikan pengguna unik untuk disiplin dalam membawa dan menjaga kartunya agar tidak rusak maupun hilang.

Kalau pun rusak kartu unik bisa diperbarui khusus untuk yang sudah terdaftar. Untuk di BNI sendiri tidak dikenai biaya. Untuk harga dari tap cash satu kali beli dihargai Rp 50.000 dan isinya sendiri mencapai Rp 40.000.

Bank BNI sampai dengan September telah menjual lebih dari 20 ribu kartu tapcash dan mulai 1 Oktober pihaknya meningkatkan penyediaan kartu sebanyak mungkin di pintu Tol Bali Mandara. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengendara yang belum mempunyai kartu tap cash bisa mendapatkannya di pintu Jalan Tol Bali Mandara. (dik)