Bakti Gunung Agung di Posko Pengungsi Desa Les Dari Potong Rambut Gratis hingga Santap Bakso Babi

22
Pangkas Rambut – pengungsi tua dan muda antre di tenda pengungsian untuk mendapatkan layanan jasa pangkas rambut gratis.

Singaraja (Bisnis Bali) – Suasana di posko pengungsi di Desa Les, Kecamatan Tejakula tidak pernah sepi dari kunjungan relawan atau donatur yang peduli untuk menyerahkan bantuan untuk ribuan pengungsi. Selain bantuan logistik yang mengalir, rupanya pengungsi juga mendapat pelayanan untuk keperluan pribadi selama di penungsian.

Salah satunya adalah jasa pangkas rambut gratis yang disediakan atas bantuan Kelompok Media Bali Post (KMB), Minggu (8/10). Selain jasa pangkas rambut, pengungsi asal bumi lahar ini menikmati sajian bakso babi yang disumbangkan oleh Koperasi Krama Bali (KKB).

Sejak jasa pangkas rambut dibuka, penungsi tua dan muda ramai memadati satu tenda yang disediakan untuk jasa pangkas rambut. Banyaknya pengungsi yang mendaftar, membuat tukang pangkas rambut kuwalahan melayani permintaan jasa pangkas rambut gratis tersebut.

Rata-rata penungsi yang masih usia sekolah ini mengaku terbantu dengan bantuan jasa pangkas rambut yang dibuka di posko penungsi. Apalagi, selama mengungsi anak-anak ini rambut mereka tampak panjang karena tidak sempat memangkas rambut saat mereka tinggal di penungsian.

Salah seorang pengungsi, Gede Lela (15 th) asal Dusun Prasan, Desa Ban, Kecamatan Kubu Karangasem menceritakan, sejak dua pekan tinggal di penungsian dirinya baru bisa memaksas rambut yang mulai tumbuh panjang. Dia mengaku terakhir memangkas rambutnya sebelum dievekuasi dari kampung halamannya ke posko pengungsi di Desa Les. Karena situasi di desa panik, sehingga tidak sempat untuk merapikan rambut dan dibiarkan semakin panjang.

Bahkan, Lala yang sekarang bersekolah di SMP Satu Atap (Satap) Negeri 1 Tejakula ini berkali-kali harus ditegur oleh guru yang mengajarnya karena saat ke seolah penampilan rambutnya gondrong. Lantaran tidak tahu di mana tempat untuk memangkas rambut, dia terpaksa membiarkan saja rambutnya semakin panjang. “Tadi dengar ada pengumuman cukur gratis langung saya daftar dan sekarang rambut sudah kembali rapi dan guru di sekolah tidak lagi menegur saya karena rambut gondrong. Saya mengucapkan terima kasih bantuan dari Bali TV dan Bali Post yang membuka jasa cukur gratis seperti ini,” katanya.

Senada diungkapkan pengungsi lain, Nyoman Wija. Pengungsi asal Dusun Pengalusan, Desa Ban ini mengaku jasa pangkas rambut untuk pengungsi sangat diperlukan. Begitu ada pengumuman dari petugas di posko, dia langsung memboyong anaknya yang dalam kondisi lumpuh dan tuna wicara (kolok-red) ke tempat jasa pangkas rambut gratis.

Di lokasi Wija harus antre dan tampak terus mengelus kepala anaknya Nengah Sumada yang tampak panjang setelah lama tidak pernah dipangkas. Saat mendapat giliran, dia pun tetap menemani buah hatinya itu ketika rambutnya mulai dirapikan. Bahkan, dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena kondisi anaknya yang mengalami cacat fisik sejak kecil. Setelah melihat rambut kepala anaknya yang rapi, perempuan ini tampak senang sembari menyampaikan ucapan terima kasih kepada dermawan yang simpati kepada anaknya. “Saya kasian karena anak ini tidak bisa jalan dan berbicara juga tidak bisa. Sangat terbantu karena rambutnya yang panjang itu sekarang dicukur dan tidak lagi kumal seperti sebelumnya,” ujar Wija sembari memangku anaknya ke tenda pengungsian.

Tidak hanya pangkas rambut, pengungsi di Posko Desa Les kemarin dimanjakan dengan sajian bakso babi sumbangan dari KKB. Tercatat sekitar 500 porsi bakso babi dinikmati para pengungsi di tengah panas terik matahari di pengungsian. Pengungsi ini mengaku senang setelah menikmati siap saji dengan gizi yang terjamin. Tidak jarang, mereka meminta tambahan porsi karena selama di penungsian mereka harus menikmati hindangan yang sudah disiapkan pemerintah.

Puas menikmati bakso babi, pengungsi leluasa menikmati air minum siap minum yang disiapkan oleh KMB bekerjasama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Buleleng. Mereka tampak tidak canggung untuk membuka keran di tendon air yang kemudian dituang ke dalam gelas lalu meminum di tempat. Mereka menilai air siap minum itu segar dan sangat membantu pengungsi karena tidak harus dimasak. Apalagi, persoalan air siap minum diakui penungsi sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan selama mengungsi. (kmb)